Jika ada si A mengatakan kepada si
B, "Kamu naik taksi saja ke kantor", tentu yang dimaksudkan adalah
taksi yang umum seperti gambaran yang pernah dilihat oleh banyak orang, karena
hampir sebagian orang pernah melihat taksi. Dalam asumsi mereka, taksi adalah
mobil sedan keluaran 5 tahun terakhir yang joknya nyaman dan dilengkapi dengan
AC. Jarang ada yang berasumsi bahwa taksi adalah mobil kijang doyok yang diubah
menjadi odong-odong dengan kursi kayu dan tanpa AC.
Lain halnya jika si A mengatakan kepada si B, "Kamu harus beribadah kepada tuhan supaya hidupmu selamat dunia dan akhirat", mengapa si B tidak pernah bertanya balik, "Tuhan yang mana?" Bukankah nama "tuhan" itu lebih generik lagi dibandingkan nama "buah" atau nama "taksi"? Apalagi mereka berdua juga belum pernah melihat "tuhan yang umum" itu seperti apa.
Jadi walaupun "tuhan" itu
hanyalah sebuah nama, tidak ada orang yang pernah melihatnya, tetapi banyak
orang yang berasumsi bahwa semua orang itu sudah tahu yang dimaksud dengan
tuhan itu yang mana. Ini adalah kesalahan berlogika yang sudah ditanamkan sejak
kecil, yang intinya adalah manusia harus BERPURA-PURA tahu tuhan itu seperti
apa, walaupun kalau ditanya satu persatu mereka BISA memberikan definisi yang
berbeda-beda terhadap nama "tuhan" itu sendiri.
Jika kita sudah paham bahwa
"tuhan" itu hanyalah sebuah nama generik yang tidak berbeda jauh
dengan nama "taksi" atau "buah", terlebih lagi tidak ada
orang yang tahu persis tuhan itu apa siapa dan bagaimana, seharusnya kita mulai
berani bertanya, "Tuhan yang mana yang anda maksudkan?"
No comments:
Post a Comment