Monday, February 2, 2015

Kelogisan sebetulnya sebagian besar hanyalah sebuah Persepsi



A bercerita, "Eikeh kemarin lihat kucing bisa terbang".
B menjawab, "Ngga mungkin, itu ngga logis."
A bertanya, "Kenapa you mengatakan itu ngga logis?
B: menjawab, "karena selama ini Ana tidak pernah lihat ada kucing bisa terbang. Selain itu kucing tidak punya sayap jadi tidak mungkin bisa terbang. Antum lagi mabuk kali ya...."
Kita lihat di sini argumen si B. Argumennya ada dua, yang pertama adalah "selama ini Ana tidak pernah lihat ada kucing bisa terbang", sebut sebagai Arg1. Yang kedua adalah "kucing tidak punya sayap jadi tidak mungkin bisa terbang", sebut saja dengan Arg2.
Bahasan argumen pertama (Arg1):
Jika B selama ini tidak pernah melihat sesuatu fenomena aneh, apakah fakta itu bisa dijadikan generalisasi bahwa SEMUA orang juga tidak pernah melihat fenomena yang sama? Jika ya, maka ini masuk dalam fallacy yang bernama Falsus in Uno, Falsus in Omnibus - False in one, False in All.
Bahasan argumen kedua (Arg2):
Jika B selama ini melihat sesuatu yang bisa terbang itu selalu menggunakan sayap, apakah ada sesuatu yang tidak bersayap tetapi bisa terbang? Bagaimana dengan balon gas atau boomerang? Di sini B menggunakan generalisasi bahwa yang bisa terbang hanya yang punya sayap karena pengetahuan dia baru sampai pada hal itu. Ini masuk dalam fallacy yang sama.
Dari dua penjelasan itu kita bisa melihat bahwa apa yang diucapkan oleh B itu berasal dari persepsinya. Persepsi itu adalah cara pengambilan kesimpulan dengan menggunakan perbandingan terhadap data apa yang ada di memorinya. Semakin banyak data yang ada di memori B, maka akan semakin tajam hasil kesimpulannya dan tidak mudah terjebak ke dalam berbagai fallacy. Makanya satu-satunya cara untuk menyadarkan orang yang sering membuat fallacy adalah berikan data secukupnya, khususnya untuk kasus yang sama, agar ybs bisa memiliki data lebih banyak untuk dikomparasi.
Untuk menentukan apakah sesuatu itu logis atau tidak, yang kita perlu pertanyakan adalah apakah CARA berlogika kita sudah benar. Jika CARAnya sudah benar, diharapkan hasilnya juga benar. Apa yang menurut seseorang logis belum tentu logis bagi orang lain karena ada perbedaan data di dalam memorinya.
Jadi harap berhati-hatilah dalam membuat klaim logis atau tidak logis, karena secara tidak langsung itu juga menunjukkan seberapa banyak data di memori anda.

No comments:

Post a Comment