Ini adalah pertanyaan klasik. Filsuf-filsuf
jaman dulu seperti Plato juga sudah mempertanyakannya. Manusia sering berasumsi
bahwa semua produk, khususnya produk yang canggih, spektakuler, atau gigantik,
selalu dibuat dengan sebuah tujuan.
Cobalah bertanya mengapa ada
galaksi, ada planet, ada matahari, ada lautan, ada gunung, dan lain-lain, pasti
anda akan mendapatkan jawaban mengapa entitas-entitas itu ada. Jawaban-jawaban
itu muncul setelah kita tahu
apa manfaat mereka bagi kehidupan kita. Sebuah jawaban yang egosentris. Jika
ada manfaatnya bagi kita maka itulah pilihan yang terbaik, sedangkan jika tidak
ada manfaatnya bagi kita, mereka itu hanya dianggap sebagai produk sampingan
yang mengada dengan sia-sia.
Jawaban klasik lainnya adalah, alam
dan manusia ini tercipta karena dikehendaki oleh tuhan. Konsep bahwa tuhan
berkehendak ini adalah sebuah konsep yang manusiawi. Banyak orang yang
berasumsi bahwa Tuhan yang konon mampu berbuat atau mencipta apapun itu masih
memiliki kehendak, dan kehendak yang dipilih juga kehendak yang baik-baik saja
sesuai dengan standar pemikiran manusia. Jarang ada yang mampu berpikir bahwa
entitas yang berkesadaran tinggi dan mampu berbuat apa saja itu sudah tidak
memiliki kehendak apapun.
Kalau mampu menciptakan apa saja,
detik itu juga akan tercipta apapun yang dikehendakinya. Tidak perlu butuh
waktu lama untuk menunggu sampai ciptaan-ciptaannya itu akan berevolusi, mulai
memiliki otak, mulai mampu berpikir, dan akhirnya mulai bisa berpikir bahwa Tuhan
itu ada dan berniat menyembahnya.
Berasumsi bahwa Tuhan butuh waktu untuk
memberikan penilaian kepada umat manusia, contohnya menunggu manusia mati dulu
baru dihitung-hitung total pahala dan dosanya, adalah sebuah pemikiran yang
masih primitif dan mengasosiasikan tuhan sebagai seorang event organizer.
Apalagi berasumsi bahwa Tuhan akan
menghukum manusia yang salah jalan dengan caranya sendiri, misalnya dengan
membuat mereka mati terkena tsunami atau gempa bumi, adalah sebuah pemikiran
yang sangat manusiawi sekali. Tuhan diasosiasikan sebagai kepala pabrik yang
akan menghancurkan produk-produk yang gagal.
Cobalah membuat asumsi ketuhanan
yang lebih bersifat surgawi dan jauh melampaui keterbatasan pemikiran kita,
dengan mengesampingkan semua ego yang ada, mengesampingkan semua asumsi-asumsi
yang manusiawi, mengesampingkan faktor-faktor reward and punishment. Dengan
asumsi-asumsi yang sedemikian itu nanti kita bisa mendapatkan Tuhan dengan
spesifikasi yang jauh berbeda.
Dengan membuat asumsi-asumsi yang
spektakuler itu kita akan menemukan Tuhan yang menyenangkan bagi semua pihak.
Tuhan yang percikan kesadarannya (mengejawantah dalam bentuk hukum fisika dan
biologi) mampu membuat alam ini berevolusi dengan baik dan tetap eksis dalam
kurun waktu milyaran tahun.
Sebuah bintang tetap harus mati
dalam rangka memberikan kesempatan terbentuknya bintang yang baru. Berbagai
planet dan galaksi tetap harus bertabrakan dan menyatu dalam rangka membentuk
benda-benda langit yang lebih stabil. Daun-daun pepohohan juga tetap harus
kering dan jatuh dalam rangka memberikan kesuburan pada bumi ini. Dan
manusiapun juga tetap harus sakit dan mati dalam rangka kesinambungan evolusi.
Semua mata rantai dalam siklus
evolusi tidak boleh terputus dan tidak perlu dibahas lagi apakah itu baik atau
buruk, benar atau salah, apalagi menyimpulkan bahwa yang baik itu kerjaan Tuhan
dan yang buruk itu kerjaan setan.
Alam ini penuh dengan berbagai
kejadian yang baik atau buruk. Apakah planet-planet yang bertabrakan atau
bintang yang meledak itu bukan hal yang buruk ? Kalau semuanya yang baik dan
buruk itu wajib dan pasti terjadi, konsekwensinya adalah konsep pemikiran kita
tentang yang baik dan yang buruk juga perlu direvolusi.
Manusia menyimpukan hal-hal yang
baik atau buruk itu berdasarkan egonya. Kalau menyenangkan mereka, atau
memberikan hal-hal yang positif bagi mereka, maka hal itu disebut sebagai
sebuah kebaikan. Begitu juga sebaliknya. Kita harus mampu menyadari bahwa semua
itu bermula dari ego manusia itu sendiri.
Hilangkan semua ego dalam berbagai
pemikiran kita, nanti kita akan tahu bahwa itulah level tertinggi dalam
pemikiran manusia, yang dalam bahasa awam disebut dengan level pemikiran
makrifat atau level pemikiran setingkat ascending master.
Kembali ke pertanyaan awal, untuk
apa alam dan manusia ini tercipta. Benarkah kita masih berasumsi bahwa semua
hal itu wajib memiliki tujuan ? Seandainya kita mampu menciptakan apa saja,
masihkah kita memiliki keinginan, kehendak atau tujuan ?
Seandainya kita mampu menciptakan
apa saja, pada awal transformasi mungkin kita akan mbebeki, ingin mencipta apa
saja dan kemudian terwujud. Semua keinginan dan kehendak kita akan terpenuhi.
Setelah ribuan tahun, kita akan bosan dengan semua hal itu dan mulai memikirkan
untuk menghilangkan kebosanan. Bosan sudah hilang, akan muncul masalah yang
baru, yaitu bingung memilih akan melakukan apa atau mencipta apa. Bingung bisa
dihilangkan, masalah baru akan muncul lagi karena sekitar kita dipenuhi dengan
produk-produk ciptaan kita. Semua produk dihilangkan, kita akan balik lagi ke
titik awal. Siklus itu tidak akan pernah berhenti.
Pada suatu titik pencapaian, kita
mulai memiliki keinginan untuk diam, tidak melakukan apapun dan tidak memiliki
keinginan atau kehendak apapun. Diam tetapi memiliki perasaan sangat
berbahagia. Bukankah itu adalah satu-satunyanya keinginan kita yang terselubung
selama ini setelah melalui bermacam-macam trial and error itu?
Pada saat diam itu kita akan
menyadari bahwa puncak pencapaian tertinggi adalah diam, suwung, kosong.
Carilah berbagai literatur di dunia ini, termasuk juga berbagai ajaran
ketuhanan tingkat tinggi, dan buktikan sendiri bahwa semuanya selalu bermuara
pada kondisi diam itu. Diam adalah segalanya dan merupakan puncak pencapaian
tertinggi.
Oleh karena itu, masihkah kita
berasumsi bahwa tuhan itu berkehendak dan memiliki tujuan dalam mencipta alam
dan manusia ini? Alam dan manusia ini masih bergejolak dengan tujuan untuk
mencapai titik keseimbangan tertinggi yang diam, kosong, suwung, nol itu. Titik
singularity.
No comments:
Post a Comment