Tuesday, August 11, 2015

Mengapa Alam dan Manusia Tercipta ?



Ini adalah pertanyaan klasik. Filsuf-filsuf jaman dulu seperti Plato juga sudah mempertanyakannya. Manusia sering berasumsi bahwa semua produk, khususnya produk yang canggih, spektakuler, atau gigantik, selalu dibuat dengan sebuah tujuan.
Cobalah bertanya mengapa ada galaksi, ada planet, ada matahari, ada lautan, ada gunung, dan lain-lain, pasti anda akan mendapatkan jawaban mengapa entitas-entitas itu ada.  Jawaban-jawaban
itu muncul setelah kita tahu apa manfaat mereka bagi kehidupan kita. Sebuah jawaban yang egosentris. Jika ada manfaatnya bagi kita maka itulah pilihan yang terbaik, sedangkan jika tidak ada manfaatnya bagi kita, mereka itu hanya dianggap sebagai produk sampingan yang mengada dengan sia-sia.
Jawaban klasik lainnya adalah, alam dan manusia ini tercipta karena dikehendaki oleh tuhan. Konsep bahwa tuhan berkehendak ini adalah sebuah konsep yang manusiawi. Banyak orang yang berasumsi bahwa Tuhan yang konon mampu berbuat atau mencipta apapun itu masih memiliki kehendak, dan kehendak yang dipilih juga kehendak yang baik-baik saja sesuai dengan standar pemikiran manusia. Jarang ada yang mampu berpikir bahwa entitas yang berkesadaran tinggi dan mampu berbuat apa saja itu sudah tidak memiliki kehendak apapun.
Kalau mampu menciptakan apa saja, detik itu juga akan tercipta apapun yang dikehendakinya. Tidak perlu butuh waktu lama untuk menunggu sampai ciptaan-ciptaannya itu akan berevolusi, mulai memiliki otak, mulai mampu berpikir, dan akhirnya mulai bisa berpikir bahwa Tuhan itu ada dan berniat menyembahnya.
Berasumsi bahwa Tuhan butuh waktu untuk memberikan penilaian kepada umat manusia, contohnya menunggu manusia mati dulu baru dihitung-hitung total pahala dan dosanya, adalah sebuah pemikiran yang masih primitif dan mengasosiasikan tuhan sebagai seorang event organizer.
Apalagi berasumsi bahwa Tuhan akan menghukum manusia yang salah jalan dengan caranya sendiri, misalnya dengan membuat mereka mati terkena tsunami atau gempa bumi, adalah sebuah pemikiran yang sangat manusiawi sekali. Tuhan diasosiasikan sebagai kepala pabrik yang akan menghancurkan produk-produk yang gagal.
Cobalah membuat asumsi ketuhanan yang lebih bersifat surgawi dan jauh melampaui keterbatasan pemikiran kita, dengan mengesampingkan semua ego yang ada, mengesampingkan semua asumsi-asumsi yang manusiawi, mengesampingkan faktor-faktor reward and punishment. Dengan asumsi-asumsi yang sedemikian itu nanti kita bisa mendapatkan Tuhan dengan spesifikasi yang jauh berbeda.
Dengan membuat asumsi-asumsi yang spektakuler itu kita akan menemukan Tuhan yang menyenangkan bagi semua pihak. Tuhan yang percikan kesadarannya (mengejawantah dalam bentuk hukum fisika dan biologi) mampu membuat alam ini berevolusi dengan baik dan tetap eksis dalam kurun waktu milyaran tahun.
Sebuah bintang tetap harus mati dalam rangka memberikan kesempatan terbentuknya bintang yang baru. Berbagai planet dan galaksi tetap harus bertabrakan dan menyatu dalam rangka membentuk benda-benda langit yang lebih stabil. Daun-daun pepohohan juga tetap harus kering dan jatuh dalam rangka memberikan kesuburan pada bumi ini. Dan manusiapun juga tetap harus sakit dan mati dalam rangka kesinambungan evolusi.
Semua mata rantai dalam siklus evolusi tidak boleh terputus dan tidak perlu dibahas lagi apakah itu baik atau buruk, benar atau salah, apalagi menyimpulkan bahwa yang baik itu kerjaan Tuhan dan yang buruk itu kerjaan setan.
Alam ini penuh dengan berbagai kejadian yang baik atau buruk. Apakah planet-planet yang bertabrakan atau bintang yang meledak itu bukan hal yang buruk ? Kalau semuanya yang baik dan buruk itu wajib dan pasti terjadi, konsekwensinya adalah konsep pemikiran kita tentang yang baik dan yang buruk juga perlu direvolusi.
Manusia menyimpukan hal-hal yang baik atau buruk itu berdasarkan egonya. Kalau menyenangkan mereka, atau memberikan hal-hal yang positif bagi mereka, maka hal itu disebut sebagai sebuah kebaikan. Begitu juga sebaliknya. Kita harus mampu menyadari bahwa semua itu bermula dari ego manusia itu sendiri.
Hilangkan semua ego dalam berbagai pemikiran kita, nanti kita akan tahu bahwa itulah level tertinggi dalam pemikiran manusia, yang dalam bahasa awam disebut dengan level pemikiran makrifat atau level pemikiran setingkat ascending master.
Kembali ke pertanyaan awal, untuk apa alam dan manusia ini tercipta. Benarkah kita masih berasumsi bahwa semua hal itu wajib memiliki tujuan ? Seandainya kita mampu menciptakan apa saja, masihkah kita memiliki keinginan, kehendak atau tujuan ?
Seandainya kita mampu menciptakan apa saja, pada awal transformasi mungkin kita akan mbebeki, ingin mencipta apa saja dan kemudian terwujud. Semua keinginan dan kehendak kita akan terpenuhi. Setelah ribuan tahun, kita akan bosan dengan semua hal itu dan mulai memikirkan untuk menghilangkan kebosanan. Bosan sudah hilang, akan muncul masalah yang baru, yaitu bingung memilih akan melakukan apa atau mencipta apa. Bingung bisa dihilangkan, masalah baru akan muncul lagi karena sekitar kita dipenuhi dengan produk-produk ciptaan kita. Semua produk dihilangkan, kita akan balik lagi ke titik awal. Siklus itu tidak akan pernah berhenti.
Pada suatu titik pencapaian, kita mulai memiliki keinginan untuk diam, tidak melakukan apapun dan tidak memiliki keinginan atau kehendak apapun. Diam tetapi memiliki perasaan sangat berbahagia. Bukankah itu adalah satu-satunyanya keinginan kita yang terselubung selama ini setelah melalui bermacam-macam trial and error itu?
Pada saat diam itu kita akan menyadari bahwa puncak pencapaian tertinggi adalah diam, suwung, kosong. Carilah berbagai literatur di dunia ini, termasuk juga berbagai ajaran ketuhanan tingkat tinggi, dan buktikan sendiri bahwa semuanya selalu bermuara pada kondisi diam itu. Diam adalah segalanya dan merupakan puncak pencapaian tertinggi.
Oleh karena itu, masihkah kita berasumsi bahwa tuhan itu berkehendak dan memiliki tujuan dalam mencipta alam dan manusia ini? Alam dan manusia ini masih bergejolak dengan tujuan untuk mencapai titik keseimbangan tertinggi yang diam, kosong, suwung, nol itu. Titik singularity.

Keywords: singularity, suwung, kosong, diam, ego, evolusi, asumsi

No comments:

Post a Comment