Kontemplasi itu berasal dari bahasa
Latin Contemplatio, yang artinya mengamati dan berpikir lebih mendalam. Ada
sebagian orang yang melakukan kontemplasi di tempat-tempat yang sepi seperti
misalnya di pinggir hutan, di pinggir sungai, di lereng gunung atau di puncak
gunung.
Biasanya, pada saat kontemplasi itu
mereka akan mendapatkan sebuah pemikiran atau idea yang baru, yang berasal dari
sintesa berbagai data dalam memorinya. Sebuah idea baru hanya bisa
muncul jika
ada data pendukung yang sudah ada di memori. Sebagai contoh, seorang perancang
microprocessor bisa mendapatkan idea untuk merancang microprocessor yang lebih
canggih seperti misalnya microprocessor berbasis protein, itu hanya bisa
terjadi jika si perancang itu sudah memiliki data tentang rancangan sebuah
microprocessor di dalam memorinya.
Jangan pernah berasumsi bahwa
seorang primitif dari kelompok Neanderthal akan mampu membuat sebuah idea
tentang processor karena di dalam otaknya belum pernah ada data rancangan
microprocessor apapun, bahkan rancangan sebuah transistorpun belum pernah ada
dalam otaknya. Jika belum pernah tahu tentang listrik, elektronik dan
transistor, bagaimana bisa mampu membuat sebuah idea tentang microprocessor ?
Begitu pula dengan sebagian orang
yang suka berkontemplasi itu. Setelah mereka mendapatkan idea yang baru dan
belum pernah diperoleh seumur hidupnya, mereka kemudian berasumsi bahwa idea
itu datangnya dari Tuhan. Padahal idea itu datangnya ya dari hasil olah data
yang ada di otaknya sendiri yang disintesakan sehingga menjadi sebuah idea atau
disimpulkan menjadi sebuah pengetahuan yang baru.
Untuk menguji pernyataan ini tentu
sangat mudah dilakukan. Kirimlah orang-orang idiot untuk melakukan kontemplasi
di berbagai tempat sepi di semua penjuru dunia ini, lalu berikan pedoman bahwa
tujuan mereka berkontemplasi adalah untuk menghitung sebuah perkalian 26547 x
18746 dengan pengetahuan atau idea yang terbaru sehingga hanya dibutuhkan waktu
5 detik untuk menghitung perkalian tadi. Jangan pernah berharap bahwa
kontemplasi semacam ini akan berhasil mencapai tujuannya.
Oleh karena itu, jangan tergesa-gesa
dalam membuat sebuah kesimpulan atas berbagai fenomena yang ada di alam ini.
Jangan pula membuat sebuah asumsi yang tadinya ditujukan agar kita terlihat
hebat dan superb tetapi sebaliknya malah akan menunjukkan ignorance kita
(kebodohan karena pengabaian kita).
Kita harus tetap ingat pada sebuah
pedoman bahwa adanya korelasi tidak selalu menghasilkan adanya hubungan sebab
akibat. Post hoc ergo propter hoc. Correlation does not imply causation.
Sebetulnya kontemplasi itu adalah sebuah perenungan
diri. Mengamati dan menilai bagaimana sikap dan perilaku kita selama ini.
Selain itu juga mengamati dan merenungkan mengapa dan bagaimana terjadinya sebuah
fenomena. Hal semacam ini banyak dilakukan oleh para filsuf jaman dahulu.
Sayangnya banyak orang-orang masa kini yang baru melakukan kontemplasi hanya 3
hari atau 7 hari saja lalu mengaku-ngaku sudah mendapatkan wangsit dari Tuhan
dan membuat klaim bahwa yang diperolehnya adalah sebuah divine knowledge yang
tidak bisa diperoleh dengan belajar di dunia nyata. Orang-orang seperti itu
bukannya terlihat cerdas tetapi malah terlihat seperti orang sakit jiwa.
No comments:
Post a Comment