Dalam hidup
ini sering kita dituntut untuk berpikir logis dalam menganalisa semua
permasalahan kehidupan. Berpikir logis, maksudnya adalah berpikir dan
menganalisa apakah kesimpulan yang diperoleh dari analisa pikiran itu masih
masuk akal atau tidak. Dalam hal ini yang disebut masuk akal adalah
probabilitas kemungkinan terjadi fenomena tersebut. Semakin probable, maka hal
itu dianggap semakin masuk akal. Masalahnya, seberapa tinggi probabilitas
itu agar bisa disebut masuk akal ? Sebagai ilustrasi saya gunakan contoh
berikut ini. Anggaplah saya hanya pegawai rendahan dengan gaji 1 juta per
bulan. Padahal saya sangat ingin memiliki sebuah Bugatti Veyron yang harganya
sekitar 154 milyar. Apakah menurut anda saya sudah berpikir cukup logis ?
Tentu anda akan menganggap saya berkhayal dan cita-cita saya itu tidak logis. Saya tahu anda berpendapat seperti itu karena probabilitas untuk bisa memiliki Bugatti Veyron itu sangat kecil bahkan nyaris mendekati nol.
Tentu anda akan menganggap saya berkhayal dan cita-cita saya itu tidak logis. Saya tahu anda berpendapat seperti itu karena probabilitas untuk bisa memiliki Bugatti Veyron itu sangat kecil bahkan nyaris mendekati nol.
Berdasarkan
ilustrasi tersebut di atas, mari kita lanjutkan ke pembahasan terjadinya alam
ini. Para ilmuwan (termasuk juga para ateis) berpendapat bahwa alam ini terjadi
secara kebetulan dan pada timeframe yang acak, dimana ada sekumpulan partikel
yang tanpa alasan tahu-tahu bersinerji dan bertransformasi dari satu bentuk ke
bentuk yang lain, sebagian partikel itu lalu berubah menjadi materi organik
yang menjadi cikal bakal single living cell di alam ini. Pada tahapan ini masih
bisa dianggap cukup logis karena probabilitasnya cukup besar. Pada tahapan
selanjutnya, protozoa-protozoa itu juga akan bersinergi dengan alam ini
sehingga mulailah tahapan evolusi spesies dari protozoa menjadi berbagai
species ternasuk manusia. Perlu waktu milyaran tahun dan trilyunan alternatif
evolusi sehingga terpilih spesies-spesies mana yang paling mampu beradaptasi
dengan alam sehingga mreka bisa survive sampai saat ini.
Masalah yang
timbul kemudian adalah spesies-spesies turunan dari protozoa itu memiliki pola
yang terkesan sudah predefined. Contohnya misalkan hampir semua vertebrata
selalu memilki dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga dan satu hidung.
Tidak ada yang hidungnya dua dan matanya satu. Contoh lain lagi misalkan onta
bisa memiliki kelopak ganda sedangkan spesies gurun pasir lainnya tidak
memiliki kelopak ganda. Jadi seberapa besar probabilitas terjadinya
spesies-spesies yang sangat spesifik itu dalam kurun waktu milyaran tahun ?
Apakah 25%, 10% atau 5% probabilitas ? Saya lebih setuju jika probabilitasnya
sangat kecil sekali, bahkan super super kecil, tetapi hal ini disetujui oleh
para ilmuwan dan dianggap jawaban yang paling logis. Di sisi lain, para
penganut konsep Tuhan lebih setuju jika spesies-spesies itu memang sudah
predefined sejak awal walaupun prosesnya terjadi secara otomatis. Ada suatu
higher intelligence yang mengatur itu semuanya dalam sebuah mahakarya berupa
universe blueprint. Karena pilihannya hanya dua, yaitu ada blueprint atau
tidak, maka probabilitas dari konsep ketuhanan ini adalah sebesar 50%, ada atau
tidak.
Mari kita
bandingkan:
Ilmuwan mengatakan alam ini terbentuk
secara acak dan spesies-spesies itu terbentuk dengan probabilitas yang sangat
sangat kecil. Kaum bertuhan mengatakan alam ini dibentuk oleh tuhan. Benar
atau salahnya klaim itu memiliki nilai probabilitas 50%. Jadi menurut anda,
lebih logis mana cara berpikirnya kaum bertuhan itu dibandingkan dengan cara
berpikir ilmuwan jika ditinjau dari probabilitas penyebab terjadinya alam ini ?
No comments:
Post a Comment