Tidak ada
sesuatu yang tidak diinginkan dalam eksistensi kehidupan ini. Kita bukanlah
muncul secara tidak disengaja dalam proses kehidupan ini. Sebaliknya, kita
adalah bagian dari hidup ini, bagian yang dinamis, yang menyambut dan merayakan
kehidupan ini. Seperti dalam Upanishad ,
disebutkan: “Even if a blade of grass is missing, the whole existence will
thirst for it” (Bahkan jika ada rumput yang hilang, seluruh eksitensi akan
mencarinya)
Mengeluh Tentang Orang Lain
Dalam
masyarakat kita, banyak yang terperangkap dengan kebiasaan mengeluh tentang
orang lain atau menilai orang lain. Mari kita melangkah mundur sejenak dan
mempertimbangkan kembali apakah kita dapat mengubah orang lain. Dan bahkan jika
kita bisa mengubah beberapa orang yang dekat dengan kita, apakah seluruh dunia
juga akan berperilaku sesuai dengan yang kita harapkan? Apakah ini mungkin dan
diharapkan bisa terjadi?
Jadi, mari
kita tanyakan pada diri kita sendiri, apakah tujuan kita hanyalah untuk
mengajari dan memperbaiki orang lain ataukah ingin mendapatkan kejernihan hati
sehingga kita bisa menerima dan sanggup menghadapi kejengkelan karena ada orang
lain yang membuat pilihan yang berbeda dengan kita?
Sangat mudah
bagi kita untuk melihat kekacauan dan ketidakberesan pada orang lain karena
kita mendapatkan manfaat sebagai pembanding terhadap diri kita sendiri. Namun,
kita tidak akan mendapatkan manfaat yang sama jika mengamati diri kita sendiri.
Kita mungkin akan risih dan sebel jika ada orang lain yang tidak sensitif
terhadap kita, tetapi keberpihakan kita pada rasa risih dan sebel itu juga
merupakan semacam ketidakpekaan kita terhadap realisasi kehidupan dan ini
umumnya tidak kita sadari.
Terjebak dalam Pikiran Negatif
Ini adalah
tanggung jawab yang utama bagi kita agar tidak berpikiran begatif terhadap
kehidupan ini. Begitu kita sudah berada pada posisi keseimbangan, kita akan
menemukan banyak alasan kenapa sesuatu hal dapat terjadi, atau kenapa seseorang
bisa melakukan perbuatan tertentu. Kita akan bisa memaklumi kenapa bisa muncul
rasa risih dan sebel yang muncul karena sesuatu kejadian atau karena perilaku
orang lain.
Apa pun yang
terjadi, selalu hilangkan semua pikiran negatif dalam diri kita. Secara halus
sang ego juga akan ikut sirna bersamaan dengan menghilangnya pikiran negatif
tersebut. Dan jika kita sudah tidak berpikiran negatif, maka akan muncul kesan
bahwa diri kita sudah menghilang. Kita hanya sebagai pengamat.
Kita ada di
dunia ini bukan hanya untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Kita di sini
untuk memahami diri sendiri dan memahami arti dari kehidupan secara lebih
mendalam. Dengan berhenti sejenak dan selalu mengingatkan diri sendiri tentang
tujuan utama ini, kita akan mendapatkan pecerahan tentang belitan halus ini
yang salah-salah akan dapat mengambil alih hidup kita. Hanya ketika kita sudah
mampu untuk jujur tentang diri kita sendiri, maka kita akan mampu belajar dan
akhirnya mampu untuk menerima berbagai hal yang bermanfaat yang telah
menampakkan diri dan menghampiri kita. Jika tidak, maka kita akan menemukan
diri kita bersembunyi di balik tabir “Saya ini dan orang itu, yang menyebabkan saya
berbuat seperti ini adalah karena kesalahan orang itu.”
Menghubungkan Diri Dengan Orang Lain
Ketika kita
sudah meluangkan waktu untuk memahami dan menhubungkan diri dengan orang lain
secara lebih mendalam, kita tidak akan membatasi diri kita dengan penilaian
atau asumsi-asumsi seperti “dia itu begini” atau “dia itu begitu”, atau “dia
itu benar” atau “dia itu salah” dan lain-lain. Dengan kata lain, kita mulai
dapat melihat situasi atau orang lain dari kedalaman dan sudut pandang yang
berbeda. Perlu dipahami bahwa pendekatan ini bukan berarti kita taqlid buta
terhadap sesuatu, lalu kemudian membuang yang lain. Ini hanyalah suatu
penerimaan bahwa kita menghargai orang lain sebagai sesama manusia, mencoba
melihat bagaimana kita dapat menghasilkan kepekaan yang diperlukan untuk
berbagi dan berkomunikasi secara mendalam dengan orang lain.
Komunikasi
semacam ini adalah suatu seni. Ini adalah sesuatu di mana hati kita, fantasi
kita, imajinasi kita, humor kita, serta pemahaman dan pengetahuan kita,
semuanya ikut bermain. Kita perlu sadari bahwa masing-masing dari kita memiliki
dunia dalam dirinya sendiri. Kita dapat mencoba dari sisi kita untuk
menjembatani dan berbagi, tetapi akhirnya itu sangat tergantung kepada orang
lain dan akan dijadikan apa oleh mereka. Kita tidak bisa mengubah siapapun dan
itu memang tidak perlu. Kita dapat berbagi pengalaman dan cinta kita dengan
yang lain. Tetapi jika dalam perjalanan itu kita sendiri menjadi tidak jelas
dan negatif, maka kita harus mencari faktor apa yang menyebabkan ketidak-jelasan
itu, dimulai dari dalam diri sendiri sebelum mencoba berbagi dengan yang lain.
Kejelasan batin ini adalah dasar yang paling penting untuk dapat berkomunikasi
secara kreatif dan cerdas dengan yang lain.
Sudah
alamiah jika semua cenderung berorientasi ke luar. Tetapi apa yang kita
butuhkan, melalui kewaspadaan dan pengertian kita, adalah untuk mengalihkan
perhatian ke dalam. Dalam bahasa Sansekerta ada dua kalimat: yang pertama, bahir mukhi, berarti
kesadaran yang menghadap keluar, dan yang lain, antar mukhi , berarti
kesadaran yang menghadap ke dalam. Jika kita ingin mendapatkan pencerahan, jika
kita ingin mengalami hubungan ilahiyah, maka kita harus mengubah perhatian ke
dalam. Dan kesadaran ini, yang meliputi bagian luar dan dalam, adalah kesadaran
holistik. Ini adalah
kesadaran tanpa pilihan yang menciptakan dasar bagi kemungkinan adanya
transformasi batin.
Godaan Untuk Memberikan Stempel Baik
Bagi Diri Sendiri
Hitler
menulis biografi berjudul MeinKampf (My Struggle – perjuangan saya). Semakin dalam
seseorang terjebak dalam peran ini, membutuhkan perjuangan yang semakin besar,
dan kemudian dia menjadi kehilangan seluruh perspektif dan menjadi sangat
merusak.
Niatnya
mungkin baik, tetapi niat saja tidak cukup. Niat harus dikombinasikan dengan
kesadaran, karena jika seseorang memiliki niat bahwa ada hasil olahan pikiran
yang baik dan mencoba untuk memaksakan itu, bisa menjadi sangat berbahaya. Bila
kita memiliki gagasan bahwa kita ini baik dan benar, maka kita telah kehilangan
pilihan yang lain dan realitas pada saat ini. Ini adalah proses belajar
menyadari bahwa kita perlu ke luar dari pagar yang membatasi pikiran kita,
jangan hanya menyadari apa yang ditunjukkan oleh pikiran kita, tetapi
biarkanlah diri kita melihat bagaimana kehidupan ini ditayangkan.
Perlu
dicatat bahwa kita juga tidak perlu mencoba untuk mengubah diri kita sendiri.
Perlu upaya yang luar biasa jika kita mencoba m
engubah peripheral, lokasi dari pemahaman kita. Biarkan perubahan terjadi sejalan dengan pemahaman yang semakin mendalam. Mengubah peripheral tanpa belajar ke pemahaman yang lebih mendalam tidak akan menghasilkan apa-apa.
engubah peripheral, lokasi dari pemahaman kita. Biarkan perubahan terjadi sejalan dengan pemahaman yang semakin mendalam. Mengubah peripheral tanpa belajar ke pemahaman yang lebih mendalam tidak akan menghasilkan apa-apa.
Kita dapat
mengubah kebiasaan tertentu, seperti tidak merokok, belajar kata-kata yang
sopan untuk menyembunyikan emosi kita. Kita dapat mencoba agar tampil beda,
tetapi jika di dalam diri kita terus terjadi kesalahpahaman dan kita selalu
mengacu kepada mereka secara taqlid buta, maka kita tidak akan bisa bebas. Lalu
semua tampilan kita di luar akan membuat kita lebih berpisah. Kita akan sampai
pada satu titik di mana kita telah merasa berkorban begitu banyak (dengan bekerja,
belajar, menjalani laku dan lain-lain), dan berharap orang lain harus atau
setidaknya juga melakukan hal yang sama. Dan sebagai hasilnya, kita akan merasa
bahwa kita lebih memiliki hak untuk menghakimi, menganggap diri kita suci,
lebih istimewa dan lebih besar dari yang lain.
Seni Perubahan – Kebebasan dari
Kebekuan
Buatlah diri
kita bebas dari identifikasi yang berhubungan dengan kepribadian, nama atau
bentuk. Dengan kata lain, kita harus membebaskan diri dari apa yang kita
bayangkan tentang diri kita, sehingga kita dapat benar-benar menjadi diri kita.
Jika tidak, setiap kali ada kejadian, pikiran akan berubah ke pola pikir jadul,
ke dalam cara-cara bereaksi jadul, dan ini hanya akan menghancurkan diri
sendiri dan orang lain.
Mereka yang
kecanduan dengan pendekatan tertentu dalam kehidupan mereka, misalnya mereka
yang terbiasa berlari mengejar kekuasaan dan harga diri, akan menyadari bahwa
tindakan mereka menuju ke arah yang salah begitu mereka menyadari tentang
pembebasan diri ini.
Ketika kita
mulai melihat sesuatu yang mengganggu, kita tidak perlu bereaksi secara
otomatis. Kita dapat tetap bebas dari penderitaan ketika dalam hati kita dapat
mengamati reaksi yang muncul, serta identifikasi kita ada di belakang reaksi
itu. Dengan jarak batin ini, kita memiliki pilihan untuk mengikuti atau tidak
mengikuti reaksi-reaksi ini. Itu memberikan kebebasan kepada kita.
Jadi itu
adalah pertanyaan tentang bagaimana agar menjadi orang yang bertanggung jawab
secara mendalam terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain sejalan dengan
pertumbuhan pemahaman yang semakin mendalam.
Siapapun
yang membiarkan hidup ini berjalan dengan hanya merespons tanpa terperangkap
dalam fiksasi apapun, maka dia akan menyentuh banyak faktor dan banyak orang
dengan cara yang berbeda.
—===oooOooo===—
No comments:
Post a Comment