Thursday, October 8, 2015

Perubahan Muncul Dari Dalam Diri

Tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan dalam eksistensi kehidupan ini. Kita bukanlah muncul secara tidak disengaja dalam proses kehidupan ini. Sebaliknya, kita adalah bagian dari hidup ini, bagian yang dinamis, yang menyambut dan merayakan kehidupan ini. Seperti dalam Upanishad , disebutkan: “Even if a blade of grass is missing, the whole existence will thirst for it” (Bahkan jika ada rumput yang hilang, seluruh eksitensi akan mencarinya)
Kita harus menyadari bahwa kebahagiaan kita sendiri dan masa depan adalah tanggung jawab pribadi kita. Sifat kehidupan selalu berhubungan dengan hal-hal yang baru di setiap saat, dan itulah yang perlu kita pelajari.
Mengeluh Tentang Orang Lain
Dalam masyarakat kita, banyak yang terperangkap dengan kebiasaan mengeluh tentang orang lain atau menilai orang lain. Mari kita melangkah mundur sejenak dan mempertimbangkan kembali apakah kita dapat mengubah orang lain. Dan bahkan jika kita bisa mengubah beberapa orang yang dekat dengan kita, apakah seluruh dunia juga akan berperilaku sesuai dengan yang kita harapkan? Apakah ini mungkin dan diharapkan bisa terjadi?
Jadi, mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, apakah tujuan kita hanyalah untuk mengajari dan memperbaiki orang lain ataukah ingin mendapatkan kejernihan hati sehingga kita bisa menerima dan sanggup menghadapi kejengkelan karena ada orang lain yang membuat pilihan yang berbeda dengan kita?
Sangat mudah bagi kita untuk melihat kekacauan dan ketidakberesan pada orang lain karena kita mendapatkan manfaat sebagai pembanding terhadap diri kita sendiri. Namun, kita tidak akan mendapatkan manfaat yang sama jika mengamati diri kita sendiri. Kita mungkin akan risih dan sebel jika ada orang lain yang tidak sensitif terhadap kita, tetapi keberpihakan kita pada rasa risih dan sebel itu juga merupakan semacam ketidakpekaan kita terhadap realisasi kehidupan dan ini umumnya tidak kita sadari.
Terjebak dalam Pikiran Negatif
Ini adalah tanggung jawab yang utama bagi kita agar tidak berpikiran begatif terhadap kehidupan ini. Begitu kita sudah berada pada posisi keseimbangan, kita akan menemukan banyak alasan kenapa sesuatu hal dapat terjadi, atau kenapa seseorang bisa melakukan perbuatan tertentu. Kita akan bisa memaklumi kenapa bisa muncul rasa risih dan sebel yang muncul karena sesuatu kejadian atau karena perilaku orang lain.
Apa pun yang terjadi, selalu hilangkan semua pikiran negatif dalam diri kita. Secara halus sang ego juga akan ikut sirna bersamaan dengan menghilangnya pikiran negatif tersebut. Dan jika kita sudah tidak berpikiran negatif, maka akan muncul kesan bahwa diri kita sudah menghilang. Kita hanya sebagai pengamat.
Kita ada di dunia ini bukan hanya untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Kita di sini untuk memahami diri sendiri dan memahami arti dari kehidupan secara lebih mendalam. Dengan berhenti sejenak dan selalu mengingatkan diri sendiri tentang tujuan utama ini, kita akan mendapatkan pecerahan tentang belitan halus ini yang salah-salah akan dapat mengambil alih hidup kita. Hanya ketika kita sudah mampu untuk jujur tentang diri kita sendiri, maka kita akan mampu belajar dan akhirnya mampu untuk menerima berbagai hal yang bermanfaat yang telah menampakkan diri dan menghampiri kita. Jika tidak, maka kita akan menemukan diri kita bersembunyi di balik tabir “Saya ini dan orang itu, yang menyebabkan saya berbuat seperti ini adalah karena kesalahan orang itu.”
Menghubungkan Diri Dengan Orang Lain
Ketika kita sudah meluangkan waktu untuk memahami dan menhubungkan diri dengan orang lain secara lebih mendalam, kita tidak akan membatasi diri kita dengan penilaian atau asumsi-asumsi seperti “dia itu begini” atau “dia itu begitu”, atau “dia itu benar” atau “dia itu salah” dan lain-lain. Dengan kata lain, kita mulai dapat melihat situasi atau orang lain dari kedalaman dan sudut pandang yang berbeda. Perlu dipahami bahwa pendekatan ini bukan berarti kita taqlid buta terhadap sesuatu, lalu kemudian membuang yang lain. Ini hanyalah suatu penerimaan bahwa kita menghargai orang lain sebagai sesama manusia, mencoba melihat bagaimana kita dapat menghasilkan kepekaan yang diperlukan untuk berbagi dan berkomunikasi secara mendalam dengan orang lain.
Komunikasi semacam ini adalah suatu seni. Ini adalah sesuatu di mana hati kita, fantasi kita, imajinasi kita, humor kita, serta pemahaman dan pengetahuan kita, semuanya ikut bermain. Kita perlu sadari bahwa masing-masing dari kita memiliki dunia dalam dirinya sendiri. Kita dapat mencoba dari sisi kita untuk menjembatani dan berbagi, tetapi akhirnya itu sangat tergantung kepada orang lain dan akan dijadikan apa oleh mereka. Kita tidak bisa mengubah siapapun dan itu memang tidak perlu. Kita dapat berbagi pengalaman dan cinta kita dengan yang lain. Tetapi jika dalam perjalanan itu kita sendiri menjadi tidak jelas dan negatif, maka kita harus mencari faktor apa yang menyebabkan ketidak-jelasan itu, dimulai dari dalam diri sendiri sebelum mencoba berbagi dengan yang lain. Kejelasan batin ini adalah dasar yang paling penting untuk dapat berkomunikasi secara kreatif dan cerdas dengan yang lain.
Sudah alamiah jika semua cenderung berorientasi ke luar. Tetapi apa yang kita butuhkan, melalui kewaspadaan dan pengertian kita, adalah untuk mengalihkan perhatian ke dalam. Dalam bahasa Sansekerta ada dua kalimat: yang pertama, bahir mukhi, berarti kesadaran yang menghadap keluar, dan yang lain, antar mukhi , berarti kesadaran yang menghadap ke dalam. Jika kita ingin mendapatkan pencerahan, jika kita ingin mengalami hubungan ilahiyah, maka kita harus mengubah perhatian ke dalam. Dan kesadaran ini, yang meliputi bagian luar dan dalam, adalah kesadaran holistik. Ini adalah kesadaran tanpa pilihan yang menciptakan dasar bagi kemungkinan adanya transformasi batin.
Godaan Untuk Memberikan Stempel Baik Bagi Diri Sendiri
Hitler menulis biografi berjudul MeinKampf (My Struggle – perjuangan saya). Semakin dalam seseorang terjebak dalam peran ini, membutuhkan perjuangan yang semakin besar, dan kemudian dia menjadi kehilangan seluruh perspektif dan menjadi sangat merusak.
Niatnya mungkin baik, tetapi niat saja tidak cukup. Niat harus dikombinasikan dengan kesadaran, karena jika seseorang memiliki niat bahwa ada hasil olahan pikiran yang baik dan mencoba untuk memaksakan itu, bisa menjadi sangat berbahaya. Bila kita memiliki gagasan bahwa kita ini baik dan benar, maka kita telah kehilangan pilihan yang lain dan realitas pada saat ini. Ini adalah proses belajar menyadari bahwa kita perlu ke luar dari pagar yang membatasi pikiran kita, jangan hanya menyadari apa yang ditunjukkan oleh pikiran kita, tetapi biarkanlah diri kita melihat bagaimana kehidupan ini ditayangkan.
Perlu dicatat bahwa kita juga tidak perlu mencoba untuk mengubah diri kita sendiri. Perlu upaya yang luar biasa jika kita mencoba m
engubah
peripheral, lokasi dari pemahaman kita. Biarkan perubahan terjadi sejalan dengan pemahaman yang semakin mendalam. Mengubah peripheral tanpa belajar ke pemahaman yang lebih mendalam tidak akan menghasilkan apa-apa.
Kita dapat mengubah kebiasaan tertentu, seperti tidak merokok, belajar kata-kata yang sopan untuk menyembunyikan emosi kita. Kita dapat mencoba agar tampil beda, tetapi jika di dalam diri kita terus terjadi kesalahpahaman dan kita selalu mengacu kepada mereka secara taqlid buta, maka kita tidak akan bisa bebas. Lalu semua tampilan kita di luar akan membuat kita lebih berpisah. Kita akan sampai pada satu titik di mana kita telah merasa berkorban begitu banyak (dengan bekerja, belajar, menjalani laku dan lain-lain), dan berharap orang lain harus atau setidaknya juga melakukan hal yang sama. Dan sebagai hasilnya, kita akan merasa bahwa kita lebih memiliki hak untuk menghakimi, menganggap diri kita suci, lebih istimewa dan lebih besar dari yang lain.
Seni Perubahan – Kebebasan dari Kebekuan
Buatlah diri kita bebas dari identifikasi yang berhubungan dengan kepribadian, nama atau bentuk. Dengan kata lain, kita harus membebaskan diri dari apa yang kita bayangkan tentang diri kita, sehingga kita dapat benar-benar menjadi diri kita. Jika tidak, setiap kali ada kejadian, pikiran akan berubah ke pola pikir jadul, ke dalam cara-cara bereaksi jadul, dan ini hanya akan menghancurkan diri sendiri dan orang lain.
Mereka yang kecanduan dengan pendekatan tertentu dalam kehidupan mereka, misalnya mereka yang terbiasa berlari mengejar kekuasaan dan harga diri, akan menyadari bahwa tindakan mereka menuju ke arah yang salah begitu mereka menyadari tentang pembebasan diri ini.
Ketika kita mulai melihat sesuatu yang mengganggu, kita tidak perlu bereaksi secara otomatis. Kita dapat tetap bebas dari penderitaan ketika dalam hati kita dapat mengamati reaksi yang muncul, serta identifikasi kita ada di belakang reaksi itu. Dengan jarak batin ini, kita memiliki pilihan untuk mengikuti atau tidak mengikuti reaksi-reaksi ini. Itu memberikan kebebasan kepada kita.
Jadi itu adalah pertanyaan tentang bagaimana agar menjadi orang yang bertanggung jawab secara mendalam terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain sejalan dengan pertumbuhan pemahaman yang semakin mendalam.
Siapapun yang membiarkan hidup ini berjalan dengan hanya merespons tanpa terperangkap dalam fiksasi apapun, maka dia akan menyentuh banyak faktor dan banyak orang dengan cara yang berbeda.

—===oooOooo===—

No comments:

Post a Comment