Kasih sayang adalah apresiasi
tertinggi yang bisa diberikan oleh manusia terhadap makhluk lainnya. Kasih
sayang ini bisa diwujudkan dalam bentuk sikap atau materi. Ada milyuner yang
menghadiahkan sebuah kapal pesiar mewah kepada kekasihnya sebagai perwujudan
kasih sayang. Ada seorang pengemis di sudut kota yang kumuh memberikan hadiah
sebungkus mie goreng kepada
anaknya sebagai hadiah ulang tahun. Ada pula anak
kecil di ujung gang yang mengelus-elus kepala kucing sebagai tanda kasihnya.
Carilah segala macam bentuk
apresiasi di jagad raya ini, tidak akan ada yang bisa melebihi kasih sayang.
Makanya manusia kemudian menyematkan atribut maha pengasih dan penyayang kepada
Tuhan. Hampir semua agama selalu menyebutkan Tuhan sebagai yang maha pengasih
dan maha penyayang. Kalimat "basmalah" dalam Islam, "hidup dalam
kasih Tuhan" di Kristen, "semoga semua mahluk berbahagia" di
Buddhism, dan "Jalan Bhakti" dalam Hindu, semuanya merupakan
implementasi kasih sayang dalam kehidupan ini.
Karena kasih
sayang merupakan apresiasi tertinggi dalam hidup ini, maka Tuhan diberi atribut
itu, dan untuk menyenangkan Tuhan maka kita perlu melakukan hal yang sama. Bukankah
semua sifat-sifat dan kemampuan yang spektakuler juga akan disematkan kepada Tuhan?
Kalau tidak mampu menyamai kasih-Nya, minimal sudah berusaha untuk menuju ke
sana, begitulah kira-kira.
Contohlah sifat-sifat Tuhan atau
pembawa risalahnya, begitu yang tertulis dalam hampir semua ajaran agama.
Jangan mencuri, jangan melukai dan jangan membunuh, karena itu bukan sifat
tuhan. Berikan kasih sayangmu kepada semua makhluk, itu baru tindakan yang keTuhanan.
Kalau kita sudah mulai memahami
bagaimana implementasi kasih sayang dalam ajaran ketuhanan, maka kita tidak
akan terjebak dalam pembelaan Tuhan secara radikal dan barbar, seperti misalnya
membakar tempat ibadah agama lain, melukai atau membunuh orang lain yang
dianggap menghina Tuhan-nya.
Tuhan itu kata yang generik, bukan
merujuk pada satu entitas. Tuhanmu belum tentu sama dengan Tuhanku. "Tuhanmu"
adalah imajinasi tentang Tuhan yang ada dalam pikiranmu, dan "Tuhanku"
adalah imajinasi tentang Tuhan yang ada dalam pikiranku. Seandainya saya
kritisi "Tuhanku", yang saya kritisi itu adalah Tuhan yang ada dalam
persepsi saya, bukan yang ada dalam persepsi anda. Dalam pikiran saya ada dua
persepsi tentang Tuhan, yaitu "Tuhan yang baik" dan "Tuhan yang
buruk", masing-masing lengkap dengan berbagai definisi dan atributnya.
Kalau misalnya atribut "Tuhan yang buruk" itu sama dengan atribut Tuhan
anda, itu hanyalah kebetulan belaka sebagai bagian dari probabilitas.
Lain halnya kalau saya menghina
"Tuhanmu", "embahmu" atau "bapakmu", anda berhak
untuk marah. Itupun hanya cukup marah saja, tidak perlu sampai melukai atau
membunuh karena kalau hal itu terjadi artinya anda belum mampu merefleksikan
sifat-sifat Tuhan dengan benar.
Pada dasarnya pembelaan Tuhan itu
hanyalah perwujudan dari ego pribadi atau ego kelompok. Sudah menjadi sifat
manusia bahwa dirinya ingin menjadi yang terbaik, yang paling hebat dan yang
paling benar. Bahkan ada lagi yang merasa dirinya paling beriman dan paling
disayang Tuhan, karena merasa telah melakukan semua perintah dan menjauhkan
semua larangan Tuhan.
No comments:
Post a Comment