Saturday, July 4, 2015

Manakah Tuhan yang Perlu Dibela ?



Kasih sayang adalah apresiasi tertinggi yang bisa diberikan oleh manusia terhadap makhluk lainnya. Kasih sayang ini bisa diwujudkan dalam bentuk sikap atau materi. Ada milyuner yang menghadiahkan sebuah kapal pesiar mewah kepada kekasihnya sebagai perwujudan kasih sayang. Ada seorang pengemis di sudut kota yang kumuh memberikan hadiah sebungkus mie goreng kepada
anaknya sebagai hadiah ulang tahun. Ada pula anak kecil di ujung gang yang mengelus-elus kepala kucing sebagai tanda kasihnya.
Carilah segala macam bentuk apresiasi di jagad raya ini, tidak akan ada yang bisa melebihi kasih sayang. Makanya manusia kemudian menyematkan atribut maha pengasih dan penyayang kepada Tuhan. Hampir semua agama selalu menyebutkan Tuhan sebagai yang maha pengasih dan maha penyayang. Kalimat "basmalah" dalam Islam, "hidup dalam kasih Tuhan" di Kristen, "semoga semua mahluk berbahagia" di Buddhism, dan "Jalan Bhakti" dalam Hindu, semuanya merupakan implementasi kasih sayang dalam kehidupan ini.
Karena kasih sayang merupakan apresiasi tertinggi dalam hidup ini, maka Tuhan diberi atribut itu, dan untuk menyenangkan Tuhan maka kita perlu melakukan hal yang sama. Bukankah semua sifat-sifat dan kemampuan yang spektakuler juga akan disematkan kepada Tuhan? Kalau tidak mampu menyamai kasih-Nya, minimal sudah berusaha untuk menuju ke sana, begitulah kira-kira.
Contohlah sifat-sifat Tuhan atau pembawa risalahnya, begitu yang tertulis dalam hampir semua ajaran agama. Jangan mencuri, jangan melukai dan jangan membunuh, karena itu bukan sifat tuhan. Berikan kasih sayangmu kepada semua makhluk, itu baru tindakan yang keTuhanan.
Kalau kita sudah mulai memahami bagaimana implementasi kasih sayang dalam ajaran ketuhanan, maka kita tidak akan terjebak dalam pembelaan Tuhan secara radikal dan barbar, seperti misalnya membakar tempat ibadah agama lain, melukai atau membunuh orang lain yang dianggap menghina Tuhan-nya.
Tuhan itu kata yang generik, bukan merujuk pada satu entitas. Tuhanmu belum tentu sama dengan Tuhanku. "Tuhanmu" adalah imajinasi tentang Tuhan yang ada dalam pikiranmu, dan "Tuhanku" adalah imajinasi tentang Tuhan yang ada dalam pikiranku. Seandainya saya kritisi "Tuhanku", yang saya kritisi itu adalah Tuhan yang ada dalam persepsi saya, bukan yang ada dalam persepsi anda. Dalam pikiran saya ada dua persepsi tentang Tuhan, yaitu "Tuhan yang baik" dan "Tuhan yang buruk", masing-masing lengkap dengan berbagai definisi dan atributnya. Kalau misalnya atribut "Tuhan yang buruk" itu sama dengan atribut Tuhan anda, itu hanyalah kebetulan belaka sebagai bagian dari probabilitas.
Lain halnya kalau saya menghina "Tuhanmu", "embahmu" atau "bapakmu", anda berhak untuk marah. Itupun hanya cukup marah saja, tidak perlu sampai melukai atau membunuh karena kalau hal itu terjadi artinya anda belum mampu merefleksikan sifat-sifat Tuhan dengan benar.
Pada dasarnya pembelaan Tuhan itu hanyalah perwujudan dari ego pribadi atau ego kelompok. Sudah menjadi sifat manusia bahwa dirinya ingin menjadi yang terbaik, yang paling hebat dan yang paling benar. Bahkan ada lagi yang merasa dirinya paling beriman dan paling disayang Tuhan, karena merasa telah melakukan semua perintah dan menjauhkan semua larangan Tuhan.

No comments:

Post a Comment