Saturday, November 8, 2014

Bohong



Ada sebuah cara untuk melembagakan bohong. Seorang tahanan mati disiksa; dan polisi Afrika Selatan (ini terjadi sebelum Nelson Mandela jadi presiden dan rezim apartheid masih berkuasa) akan mengumumkan: si tahanan tewas jatuh tergelincir menginjak sabun. Seorang lain terbunuh dalam sel setelah dihajar para interogator; dan maklumat resmi yang disiarkan akan mengatakan bahwa si mati — karena sesal yang besar selama di penjara — telah loncat lewat jendela dari tingkat atas dan terjerembab di pelataran.
Orang yang membaca kabar itu di koran-koran (yang tentu saja disensor) tahu bahwa pengumuman polisi itu tidak untuk dipercaya. Juga para petugas keamanan itu sendiri. Tapi, mereka juga tahu bahwa tak seorang pun akan menentang kebohongan itu. Yang palsu tak terusik. Orang yang menentang, toh, tak punya tempat untuk menyatakan pendapat. Para pembangkang berada dalam bui atau gelisah di negeri asing.
Sementara itu, mereka yang menyokong dan menikmati diskriminasi rasial itu akan terus makan, bersetubuh, bekerja, beribadah, main biliar, piknik, tanpa peduli benar bahwa setiap kali ada yang dihinakan dan disiksa sebenarnya ada yang rusak dalam tata kehidupan. Kepalsuan adalah sejenis kekerasan. Dan, bila kekerasan itu berkait dengan kekerasan lain, teror akan menunggu siapa saja di sebuah sudut.
Penyair Breyten Breytenbach , dari luar negeri, menulis sajak.
Aku berdiri di atas bata, di depan sesama manusia
Aku patung pembebasan
yang dengan buah zakar yang disetrum listrik
coba mekikkan cahaya ke dalam senja
Kutulis slogan dengan kencing yang merah
di atas kulit dan lantai
Tetap terjaga
meski tercekik oleh tali ususku sendiri

dan tergelincir di atas sabun dengan tengkorak yang jadi retak
aku bunuh diri dengan koran senja hari
terjungkal dari lantai ke-10 di sorga dan jatuh
ke hidup yang selamat, di jalan raya, di antara orang ramai di sana
Sajak itu menggunakan kata-kata yang terkenal dalam pengumuman polisi: “tergelincir di atas sabun dengan tengkorak yang retak,” “terjungkal dari lantai ke- 10”. Tapi, ia sebenarnya membalikkan kata-kata itu, “kode” itu. Pengarang Afrika Selatan yang lain, J.M. Coetzee , menulis sebuah kumpulan esei tentang sensor, Giving Offense (1996). Di sana, ia mengatakan apa yang dicapai oleh Breytenbach: ia ciptakan sebuah arena, tempat “kode-kode” polisi itu dipertontonkan sebagai hanya kedok, dan sebab itu dicopot dan dihujat.
Sajak itu dilarang. Motif pembrangusannya, dalam kata-kata Coetzee, adalah untuk tidak memberi karya Breytenbach itu sebuah pentas di depan umum, tidak memberi retorikanya yang unggul sebuah kekuatan yang bisa membongkar kode-kode yang keji itu.
Yang bagi saya menarik di sini adalah ketika kekuasaan menganggap kebohongan sebagai dinas. Kebohongan telah menjadi dinas karena diasumsikan bahwa yang penting bukanlah percaya atau tidak percaya — sesuatu yang akhirya bersifat pribadi — tetapi bahwa ada tugas yang harus dilakukan menurut aturan kepegawaian.
Saya ingat saya pernah menjadi saksi di sebuah pernikahan seorang perempuan sahabat saya. Untuk keperluan administrasi ada dokumen perkawinan yang harus diisi. Maka, Pak Penghulu bertanya, apa pekerjaan saya. Waktu itu, dua tahun sudah saya kehilangan kerja karena majalah tempat saya bekerja dibredel. Maka, saya pun menjawab dengan takzim: “Menganggur.” Pak Penghulu, seperti tak mendengar, dengan kalem menulis sambil menyimpulkan: “O, maksudnya orang swasta.”
Ada sebuah cerita lain. Teman saya, seorang asing, katakanlah dari Jerman, pernah diperiksa oleh seorang petugas kepolisian Jawa Barat karena ia dianggap melakukan pelanggaran kecil. Untuk keperluan Berita Acara Pemeriksaan, ia ditanya apa agamanya. Teman itu, seorang ateis yang yakin, menjawab dalam bahasa Indonesia yang fasih: “Saya tidak punya agama.”
Polisi (agak kaget dan heran): “Yang bener?”
Teman saya: “Bener.”
Polisi (setelah terdiam sebentar): “Wah, bagaimana ini…. Bapak jangan merepotkan saya, dong. Sebut saja agamanya apa.”
Teman saya: “Saya tidak beragama.”
Polisi (garuk-garuk rambut): “Bagaimana kalau Kristen?”
Teman saya: ” Bukan !”
Polisi: “Ah, saya repot, nih. Ini kan harus diisi?”
Teman saya: “Tapi, saya tidak beragama.”
Polisi (sambil mengetik berita acara): “Saya tulis Kristen, ya.”
Teman saya: “Lo, jangan, Pak.”
Polisi: “Sudahlah, agamanya Kristen saja, saya yang bertanggung jawab.”
Pak Polisi tahu bahwa yang ditulisnya tak benar, meskipun ia tahu soal agama adalah soal iman dan ada hubungan dengan Tuhan. Sebagaimana Pak Penghulu dalam pengalaman saya juga tahu bahwa yang dicatatnya salah. Tapi, birokrasi rupanya tak kasih kemungkinan untuk menghubungkan kolom “agama” dengan sebuah ruang kosong atau kata ateis atau kolom ” pekerjaan” dalam surat kawin resmi itu dengan kata menganggur.
Hidup punya begitu banyak hal yang tak diduga. Sebab itu, hidup tak senantiasa jelas. Tapi, aturan resmi membutuhkan hal-hal yang kategoris. Hasilnya: sebuah kekerasan meringkus ragam kemungkinan yang tak terduga itu.
Kekerasan itu sendiri akhirnya tak jelas lagi apa tujuannya (untuk mencatat fakta atau hanya mengisi apa yang harus diisi), namun harus tetap dilakukan, semacam ritual, semacam ketika orang menaikkan bendera nasional dengan berbaris rapi, atau angkat gelas dalam suatu jamuan, atau pakai jas dan dasi untuk sebuah resepsi.
Dibandingkan dengan anekdot di atas, kekerasan yang dilakukan oleh polisi di Afrika Selatan pra-Mandela berlipat-lipat. Lipatan pertama: seluruh sistem apartheid memaksakan aneka ragam manusia ke dalam dua golongan, yakni yang kulitnya berwarna dan tidak berwarna. Variasi lain (misalnya “yang punya tahi lalat” dan “tak punya tahi lalat”) tak boleh. Lipatan kedua: seluruh kekuasaan apartheid menjebloskan setiap orang yang berkulit hitam sebagai sesuatu yang harus disisihkan. Lipatan ketiga: seluruh mesin kekuasaan itu memperlakukan para terdakwa (apalagi kalau kulitnya hitam) sebagai sepasang rahang yang bisa dipaksa untuk dibuka, misalnya setelah dihajar hingga penyok atau disetrum listrik hingga terloncat. Dan, lipatan keempat: seluruh mesin propaganda dari rezim itu mengumandangkan ke mana-mana dusta besar itu bahwa yang salah adalah orang yang telah dihancurkan — sehingga akhirnya logika yang berlaku adalah “dia hancur, sebab itu dia salah”.
Menghadapi lipatan-lipatan kekerasan itu, sebuah sajak Breyten Breytenbach (apalagi ditulis uit de vreemde, “dari bagian yang asing, dari luar negeri”) sebenarnya hanya ibarat seekor nyamuk yang mengganggu. Tapi, orang yang berkuasa dengan kekerasan selalu tak yakin pada diri sendiri. Melembagakan kebohongan memang akan terasa seperti membangun sebuah republik dari kotak kosong. Satu boks kardus yang tak tahan guncangan akan menyebabkan kardus yang lain segera berantakan.
Akan tetapi, birokrasi punya sebuah ritual lain yang tersembunyi. Orang-orang berseragam itu memasukkan akal budi dan hati nurani mereka yang tak seragam ke dalam laci dari pukul 09.00 sampai pukul 16.00 dan setelah itu diistirahatkan total.

                                                               —===oooOooo===—

No comments:

Post a Comment