Ada sebuah cara untuk melembagakan
bohong. Seorang tahanan mati disiksa; dan polisi Afrika Selatan (ini terjadi
sebelum Nelson Mandela jadi presiden dan rezim apartheid masih berkuasa)
akan mengumumkan: si tahanan tewas jatuh tergelincir menginjak sabun. Seorang
lain terbunuh dalam sel setelah dihajar para interogator; dan maklumat resmi
yang disiarkan akan mengatakan bahwa si mati — karena sesal yang besar selama
di penjara — telah loncat lewat jendela dari tingkat atas dan terjerembab di
pelataran.
Sementara itu, mereka yang menyokong
dan menikmati diskriminasi rasial itu akan terus makan, bersetubuh, bekerja,
beribadah, main biliar, piknik, tanpa peduli benar bahwa setiap kali ada yang
dihinakan dan disiksa sebenarnya ada yang rusak dalam tata kehidupan. Kepalsuan
adalah sejenis kekerasan. Dan, bila kekerasan itu berkait dengan kekerasan
lain, teror akan menunggu siapa saja di sebuah sudut.
Penyair Breyten Breytenbach , dari luar negeri,
menulis sajak.
Aku berdiri di atas bata, di depan sesama manusia
Aku patung pembebasan
yang dengan buah zakar yang disetrum listrik
coba mekikkan cahaya ke dalam senja
Kutulis slogan dengan kencing yang merah
di atas kulit dan lantai
Aku patung pembebasan
yang dengan buah zakar yang disetrum listrik
coba mekikkan cahaya ke dalam senja
Kutulis slogan dengan kencing yang merah
di atas kulit dan lantai
Tetap terjaga
meski tercekik oleh tali ususku sendiri
dan tergelincir di atas sabun dengan tengkorak yang jadi retak
aku bunuh diri dengan koran senja hari
terjungkal dari lantai ke-10 di sorga dan jatuh
ke hidup yang selamat, di jalan raya, di antara orang ramai di sana
meski tercekik oleh tali ususku sendiri
dan tergelincir di atas sabun dengan tengkorak yang jadi retak
aku bunuh diri dengan koran senja hari
terjungkal dari lantai ke-10 di sorga dan jatuh
ke hidup yang selamat, di jalan raya, di antara orang ramai di sana
Sajak itu menggunakan kata-kata yang
terkenal dalam pengumuman polisi: “tergelincir di atas sabun dengan tengkorak
yang retak,” “terjungkal dari lantai ke- 10”. Tapi, ia sebenarnya membalikkan
kata-kata itu, “kode” itu. Pengarang Afrika Selatan yang lain, J.M. Coetzee , menulis sebuah kumpulan esei
tentang sensor, Giving Offense (1996). Di sana, ia mengatakan
apa yang dicapai oleh Breytenbach: ia ciptakan sebuah arena, tempat “kode-kode”
polisi itu dipertontonkan sebagai hanya kedok, dan sebab itu dicopot dan
dihujat.
Sajak itu dilarang. Motif
pembrangusannya, dalam kata-kata Coetzee, adalah untuk tidak memberi karya
Breytenbach itu sebuah pentas di depan umum, tidak memberi retorikanya yang
unggul sebuah kekuatan yang bisa membongkar kode-kode yang keji itu.
Yang bagi saya menarik di sini
adalah ketika kekuasaan menganggap kebohongan sebagai dinas. Kebohongan telah
menjadi dinas karena diasumsikan bahwa yang penting bukanlah percaya atau tidak
percaya — sesuatu yang akhirya bersifat pribadi — tetapi bahwa ada tugas yang
harus dilakukan menurut aturan kepegawaian.
Saya ingat saya pernah menjadi saksi
di sebuah pernikahan seorang perempuan sahabat saya. Untuk keperluan
administrasi ada dokumen perkawinan yang harus diisi. Maka, Pak Penghulu
bertanya, apa pekerjaan saya. Waktu itu, dua tahun sudah saya kehilangan kerja
karena majalah tempat saya bekerja dibredel. Maka, saya pun menjawab dengan
takzim: “Menganggur.” Pak Penghulu, seperti tak mendengar, dengan kalem menulis
sambil menyimpulkan: “O, maksudnya orang swasta.”
Ada sebuah cerita lain. Teman saya,
seorang asing, katakanlah dari Jerman, pernah diperiksa oleh seorang petugas
kepolisian Jawa Barat karena ia dianggap melakukan pelanggaran kecil. Untuk
keperluan Berita Acara Pemeriksaan, ia ditanya apa agamanya. Teman itu, seorang
ateis yang yakin, menjawab dalam bahasa Indonesia yang fasih: “Saya tidak punya
agama.”
Polisi (agak kaget dan heran): “Yang bener?”
Teman saya: “Bener.”
Polisi (setelah terdiam sebentar): “Wah, bagaimana ini…. Bapak jangan merepotkan saya, dong. Sebut saja agamanya apa.”
Teman saya: “Saya tidak beragama.”
Polisi (garuk-garuk rambut): “Bagaimana kalau Kristen?”
Teman saya: ” Bukan !”
Polisi: “Ah, saya repot, nih. Ini kan harus diisi?”
Teman saya: “Tapi, saya tidak beragama.”
Polisi (sambil mengetik berita acara): “Saya tulis Kristen, ya.”
Teman saya: “Lo, jangan, Pak.”
Polisi: “Sudahlah, agamanya Kristen saja, saya yang bertanggung jawab.”
Teman saya: “Bener.”
Polisi (setelah terdiam sebentar): “Wah, bagaimana ini…. Bapak jangan merepotkan saya, dong. Sebut saja agamanya apa.”
Teman saya: “Saya tidak beragama.”
Polisi (garuk-garuk rambut): “Bagaimana kalau Kristen?”
Teman saya: ” Bukan !”
Polisi: “Ah, saya repot, nih. Ini kan harus diisi?”
Teman saya: “Tapi, saya tidak beragama.”
Polisi (sambil mengetik berita acara): “Saya tulis Kristen, ya.”
Teman saya: “Lo, jangan, Pak.”
Polisi: “Sudahlah, agamanya Kristen saja, saya yang bertanggung jawab.”
Pak Polisi tahu bahwa yang
ditulisnya tak benar, meskipun ia tahu soal agama adalah soal iman dan ada
hubungan dengan Tuhan. Sebagaimana Pak Penghulu dalam pengalaman saya juga tahu
bahwa yang dicatatnya salah. Tapi, birokrasi rupanya tak kasih kemungkinan
untuk menghubungkan kolom “agama” dengan sebuah ruang kosong atau kata ateis
atau kolom ” pekerjaan” dalam surat kawin resmi itu dengan kata menganggur.
Hidup punya begitu banyak hal yang
tak diduga. Sebab itu, hidup tak senantiasa jelas. Tapi, aturan resmi
membutuhkan hal-hal yang kategoris. Hasilnya: sebuah kekerasan meringkus ragam
kemungkinan yang tak terduga itu.
Kekerasan itu sendiri akhirnya tak
jelas lagi apa tujuannya (untuk mencatat fakta atau hanya mengisi apa yang
harus diisi), namun harus tetap dilakukan, semacam ritual, semacam ketika orang
menaikkan bendera nasional dengan berbaris rapi, atau angkat gelas dalam suatu
jamuan, atau pakai jas dan dasi untuk sebuah resepsi.
Dibandingkan dengan anekdot di atas,
kekerasan yang dilakukan oleh polisi di Afrika Selatan pra-Mandela
berlipat-lipat. Lipatan pertama: seluruh sistem apartheid memaksakan aneka
ragam manusia ke dalam dua golongan, yakni yang kulitnya berwarna dan tidak
berwarna. Variasi lain (misalnya “yang punya tahi lalat” dan “tak punya tahi
lalat”) tak boleh. Lipatan kedua: seluruh kekuasaan apartheid menjebloskan
setiap orang yang berkulit hitam sebagai sesuatu yang harus disisihkan. Lipatan
ketiga: seluruh mesin kekuasaan itu memperlakukan para terdakwa (apalagi kalau
kulitnya hitam) sebagai sepasang rahang yang bisa dipaksa untuk dibuka,
misalnya setelah dihajar hingga penyok atau disetrum listrik hingga terloncat.
Dan, lipatan keempat: seluruh mesin propaganda dari rezim itu mengumandangkan
ke mana-mana dusta besar itu bahwa yang salah adalah orang yang telah
dihancurkan — sehingga akhirnya logika yang berlaku adalah “dia hancur, sebab
itu dia salah”.
Menghadapi lipatan-lipatan kekerasan
itu, sebuah sajak Breyten Breytenbach (apalagi ditulis uit de vreemde,
“dari bagian yang asing, dari luar negeri”) sebenarnya hanya ibarat seekor
nyamuk yang mengganggu. Tapi, orang yang berkuasa dengan kekerasan selalu tak
yakin pada diri sendiri. Melembagakan kebohongan memang akan terasa seperti
membangun sebuah republik dari kotak kosong. Satu boks kardus yang tak tahan
guncangan akan menyebabkan kardus yang lain segera berantakan.
Akan tetapi, birokrasi punya sebuah
ritual lain yang tersembunyi. Orang-orang berseragam itu memasukkan akal budi
dan hati nurani mereka yang tak seragam ke dalam laci dari pukul 09.00 sampai
pukul 16.00 dan setelah itu diistirahatkan total.
No comments:
Post a Comment