Tuesday, September 1, 2015

Ego - Jiwa - Jati Diri



Seorang anak dilahirkan. Dia dilahirkan tanpa pengetahuan, tanpa kesadaran terhadap dirinya sendiri. Hal pertama yang dia sadari bukanlah dirinya sendiri, tetapi hal lain. Ini wajar, karena mata terbuka ke arah luar, tangan menyentuh orang lain, telinga mendengarkan orang lain, lidah merasakan makanan dari luar dan hidung mencium aroma dari luar. Semua indra terbuka ke arah luar.
Itulah yang diartikan kelahiran. Kelahiran berarti datang ke dunia ini, ke dunia luar. Ketika anak itu membuka matanya, dia melihat orang lain. Pertama kali ia akan menyadari keberadaan ibunya. Kemudian, dari hari ke hari, dia menjadi sadar akan tubuhnya sendiri. Itu juga sesuatu yang lain, yang juga menjadi milik dunia. Dia menjadi lapar dan dia merasakan tubuhnya; Saat kebutuhannya terpenuhi, dia melupakan tubuh.
Ini adalah bagaimana seorang anak tumbuh. Pertama, dia menjadi sadar berada di antara orang-orang, dan dengan menjadikan mereka sebagai pembanding, kemudian dia menjadi sadar akan dirinya sendiri. Kesadaran ini adalah kesadaran cerminan. Dia tidak mengetahui siapa dirinya. Dia hanya menyadari ibunya dan apa yang dia pikirkan tentang dirinya. Jika dia tersenyum, jika dia membuai anak, jika dia mengatakan, “anak yang manis,” jika dia memeluk dan mencium, anak akan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Sekarang ego telah terlahir. Melalui penghargaan, cinta, kepedulian, dia merasa nyaman, dia merasa berharga, dia merasa memiliki arti. Sebuah jati diri telah lahir. Tetapi jati diri ini adalah jati diri cerminan. Bukan jati diri yang sesungguhnya. Dia tidak tahu siapa dirinya, tetapi dia hanya mengetahui apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Dan ini adalah ego: refleksi dari apa yang dipikirkan orang lain. Jika tak ada yang berpikir bahwa dia ada gunanya, tak ada yang menghargai dirinya, tak ada yang tersenyum, ego juga akan tetap lahir, tetapi disebut ego yang sakit; sedih, merasa ditolak, seperti luka; perasaan rendah diri, merasa tidak berharga. Ini juga disebut ego, dan ini juga cerminan.
Pertama kali ibu yang dilihatnya, dan ibu berarti dunia pada awalnya. Kemudian orang lain akan bergabung dengan ibu, dan dunia terus berkembang. Dan semakin tumbuh dunia, ego menjadi semakin kompleks, karena banyak pendapat orang lain yang tercermin.
Ego adalah sebuah kumpulan fenomena, hasil dari hidup bersama orang lain. Jika seorang anak benar-benar hidup sendirian, dia tidak akan pernah bisa menumbuhkan ego. Dia tidak akan bisa mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Itu hanya bisa diketahui setelah tahu mana yang salah, sehingga ego harus ada. Kita harus melewatinya. Ini adalah disiplin ilmu. Kenyataan yang sebenarnya hanya dapat diketahui melalui ilusi. Anda tidak akan dapat mengetahui kebenaran secara langsung. Pertama Anda harus tahu mana yang tidak benar. Lalu Anda harus mengalami hal yang tidak benar itu. Melalui pengalaman itu Anda menjadi mampu mengetahui kebenaran. Jika Anda tahu mana yang salah adalah salah, kebenaran akan menyingsing pada diri Anda.
Ego adalah sebuah kebutuhan sosial; produk sosial. Masyarakat artinya adalah semua yang ada di sekitar Anda – tidak termasuk Anda. Dan semua orang memancarkan cerminan. Anda akan pergi ke sekolah dan guru akan memberikan cerminan tentang siapa Anda. Anda bersahabat dengan anak-anak lain dan mereka akan mencerminkan siapa Anda. Hari demi hari, setiap orang memberikan tambahan ego kepada Anda, dan setiap orang selalu mencoba untuk mengubahnya sedemikian rupa sehingga Anda tidak menjadi masalah bagi masyarakat. Mereka tidak peduli dengan Anda. Mereka lebih perduli kepada masyarakat.
Masyarakat berkaitan dengan dirinya sendiri, dan memang demikian seharusnya. Mereka tidak peduli bahwa Anda harus menjadi diri yang maha-tahu. Mereka hanya perduli bahwa Anda harus menjadi bagian yang efisien dalam mekanisme masyarakat. Anda harus sesuai dengan pola. Mereka mengajarkan moralitas. Moralitas berarti memberikan Anda sebuah ego yang akan cocok dengan masyarakat. Jika Anda tidak bermoral, Anda tidak cocok di suatu tempat atau lainnya. Itulah sebabnya kita menempatkan penjahat di dalam penjara – bukan karena mereka telah melakukan sesuatu yang salah, bukan dengan meletakkannya di dalam penjara kita akan dapat memperbaiki mereka, bukan. Mereka hanya tidak cocok. Mereka adalah pembuat onar. Mereka memiliki ego jenis tertentu yang tidak disetujui oleh masyarakat. Jika masyarakat menyetujui, semuanya menjadi baik.
Satu orang yang membunuh orang lain disebut sebagai pembunuh. Jika orang yang sama di masa perang membunuh ribuan orang, maka ia menjadi pahlawan besar. Masyarakat tidak terganggu oleh pembunuhan, tetapi pembunuhan harus dilakukan untuk masyarakat. Masyarakat tidak berbicara tentang moralitas. Moralitas hanya berarti bahwa Anda harus cocok dengan masyarakat. Jika masyarakat dalam keadaan perang, maka ada perubahan moralitas. Jika masyarakat damai, maka ada moralitas yang berbeda. Moralitas adalah terminologi dalam bidang sosial politik. Bisa diubah cukup dengan diplomasi. Dan setiap anak harus dibesarkan sedemikian rupa sehingga ia cocok ke dalam masyarakat, itu saja. Masyarakat hanya tertarik pada anggota yang bisa bermasyarakat dengan baik. Masyarakat tidak perduli apakah Anda harus meningkatkan pengetahuan tentang jati diri atau tidak.
Masyarakat menciptakan ego karena ego dapat dikontrol dan dimanipulasi. Diri tidak dapat dikontrol atau dimanipulasi. Tidak pernah ada berita bahwa masyarakat dapat mengendalikan diri pribadi, itu tidak mungkin. Dan anak membutuhkan sebuah jati diri; anak sama sekali tidak menyadari jati diri yang ada dalam dirinya sendiri. Masyarakat memberinya sebuah jati diri dan si anak hari demi hari meyakini bahwa ini adalah jati diri yang dicarinya, yaitu ego yang diberikan oleh masyarakat.
Si anak pulang ke rumahnya – jika dia datang paling pagi di kelasnya, seluruh keluarga bahagia. Anda memeluk dan menciumnya, dan Anda mengangkat anak pada bahu Anda dan menari sambil berkata, “Anak yang manis. Anak yang jadi kebanggaan kami.” Anda telah memberinya ego, ego yang halus. Dan jika anak pulang ke rumah dengan kesal dan merasa gagal – ia tidak bisa lulus, atau dia hanya dapat duduk di bangku belakang – maka tidak ada yang menghargai dirinya dan anak merasa ditolak. Dia akan berusaha lebih keras lain kali, karena jati dirinya merasa terguncang.
Ego selalu terguncang, selalu mencari makanan, bahwa seseorang harus menghargainya. Itu sebabnya Anda terus-menerus meminta perhatian. Anda mendapatkan ide tentang siapa diri Anda dari orang lain. Ini bukan pengalaman langsung. Ini berasal dari orang lain sehingga Anda mendapatkan gagasan tentang siapa diri Anda. Mereka membentuk jati diri Anda. Jati diri ini adalah palsu, karena Anda sebetulnya membawa jati diri Anda sendiri yang nyata. Ini bukanlah urusan orang lain. Tidak ada orang lain yang membentuknya. Anda datang bersamanya. Anda lahir bersamanya.
Jadi, Anda memiliki dua jati diri. Satu jati diri yang datang bersama eksitensi Anda terlahir di dunia ini. Dan jati diri yang lain, yang diciptakan oleh masyarakat, adalah ego. Ini adalah sesuatu yang keliru – dan ini adalah tipuan yang sangat besar. Melalui ego, masyarakat mengendalikan Anda. Anda harus berperilaku dengan cara tertentu, karena dengan demikian masyarakat akan menghargai Anda. Anda harus berjalan dengan cara tertentu; Anda harus tertawa dengan cara tertentu; Anda harus mengikuti tata krama tertentu, moralitas, aturan. Baru kemudian masyarakat akan menghargai Anda, dan jika tidak, ego anda akan goncang. Dan ketika ego terguncang, Anda tidak tahu di mana Anda berada, dan siapa Anda.
Cobalah untuk mengerti sedalam mungkin, karena ego ini harus dibuang. Dan jika Anda tidak membuangnya, Anda tidak akan pernah bisa mencapai ke dalam diri. Karena Anda kecanduan pada ego, Anda tidak bisa bergerak, dan Anda tidak dapat melihat diri sendiri. Dan ingat, ada akan suatu masa peralihan, ada selang waktu, ketika ego akan hancur, ketika Anda tidak akan tahu siapa diri Anda, ketika Anda tidak akan tahu akan pergi ke mana, ketika semua batasan akan mencair. Maka anda akan menjadi bingung, dan semua menjadi kacau. Karena kekacauan ini, Anda takut kehilangan ego. Tetapi memang harus begitu. Semua harus melewati kekacauan sebelum mencapai ke jati diri yang nyata. Dan jika Anda berani, jangka waktunya akan menjadi pendek. Jika Anda takut, dan Anda lagi jatuh kepada ego, dan Anda mulai mengatur itu lagi, maka waktunya bisa menjadi sangat sangat panjang; banyak waktu kehidupan yang menjadi sia-sia.
Bersama dengan ego, Anda merasakan bahwa ego adalah kegelapan. Mungkin ini akan merepotkan, mungkin ini menciptakan banyak kesengsaraan, tapi ini masih milikku. Sesuatu untuk menjadi pegangan, sesuatu yang sudah melekat, sesuatu yang menjadi pijakan. Anda tidak berada dalam ruang hampa, bukan juga dalam kekosongan. Anda mungkin menyedihkan, tapi setidaknya Anda adalah Anda. Bahkan keadaan sedihpun memberi Anda perasaan ‘Aku’. Pindah dari itu, rasa takut mengambil alih; Anda mulai merasa takut pada kegelapan dan kekacauan yang tidak dikenal – karena masyarakat telah berhasil menghapus bagian kecil dari keberadaan Anda.
Ego yang diberikan oleh masyarakat itu hanyalah menempati sebagian kecil dari kesadaran diri Anda. Kesadaran akan jati diri yang sesungguhnya, ada dalam bagian kesadaran lain yang masih belum pernah dibuka dan disentuh. Untuk membuka kesadaran, Anda harus berani masuk ke dalam sesuatu yang sama sekali belum pernah Anda ketahui. Untuk sementara semua batasan akan hilang. Untuk sementara Anda akan merasa pusing. Untuk sementara Anda akan merasa sangat takut dan terguncang. Tetapi jika Anda berani dan Anda tidak pernah menoleh ke belakang, jika tidak jatuh kembali ke dalam ego dan Anda terus berjalan, maka Anda akan menemukan satu pusat tersembunyi yang ada dalam diri Anda yang memang sudah terbawa sejak lahir. Itu adalah jiwa Anda, jati diri Anda.
Sekali Anda datang mendekati itu, semuanya akan berubah, dan semuanya akan memantapkan diri kembali. Tetapi sekarang pemantapan ini tidak dilakukan oleh masyarakat. Sekarang semuanya menjadi kosmos, bukan chaos; dan suatu tatanan baru akan muncul. Tetapi ini bukan lagi tatanan masyarakat – ini adalah tatanan keberadaan jati diri itu sendiri. Ini adalah apa yang disebut oleh Buddha sebagai Dhamma , Lao Tzu menyebutnya Tao , dan Heraclitus menyebutnya Logos .
Itu bukan buatan manusia. Ini adalah tatanan keberadaan itu sendiri. Lalu semuanya tiba-tiba menjadi indah lagi, dan untuk pertama kali semuanya menjadi benar-benar indah, karena hal-hal buatan manusia tidak ada yang bisa indah. Paling-paling kita hanya dapat menyembunyikan keburukan dari mereka, itu saja. Kita bisa menghiasi mereka, tetapi mereka tidak akan pernah bisa menjadi indah.
Perbedaannya adalah seperti perbedaan antara bunga asli dengan bunga plastik atau bunga kertas. Ego adalah bunga plastik – mati. Itu hanya tampak seperti bunga, tetapi bukan bunga. Kita tidak dapat benar-benar menyebutnya bunga. Itu hanyalah plastik dan tidak ada kehidupan di dalamnya. Kita memiliki pusat jati diri yang berbunga. Itulah sebabnya orang Hindu menyebutnya teratai (lotus) – karena dia berbunga. Mereka menyebutnya teratai seribu kelopak (
one thousand petaled lotus). Seribu kelopak bunga berarti tidak terbatas. Dan itu terus berbunga, tidak pernah berhenti, tidak pernah mati.
Tetapi kita sudah cukup puas dengan ego plastik. Ada beberapa alasan mengapa kita puas. Dengan benda mati, ada banyak kenyamanan. Salah satunya adalah bahwa benda mati tidak pernah mati. Mereka tidak berubah. Mereka tidak kekal, tetapi mereka permanen. Bunga nyata yang ada di luar taman itu kekal, tetapi tidak permanen. Dan yang kekal selalu memiliki cara untuk menjadi abadi. Cara yang kekal adalah untuk dilahirkan kembali, dan kembali dan mati. Melalui kematian itu dia menyegarkan dirinya sendiri, meremajakan dirinya sendiri. Bagi kita tampak bahwa bunga itu telah mati – tetapi dia tidak pernah mati. Ini hanya perubahan tubuh, sehingga selalu segar. Meninggalkan tubuh tua, memasuki tubuh baru. Ini membunga di tempat lain; dan ini terus berbunga. Tetapi kita tidak dapat melihat kontinuitas ini karena tidak kelihatan. Kita hanya melihat satu bunga, dan bunga lain, kita tidak pernah melihat kontinuitas. Ini adalah bunga yang sama dengan yang kemarin. Ini adalah matahari yang sama, tetapi dalam wujud yang berbeda.
Ego memiliki kualitas tertentu – dia sudah mati. Dia hanyalah bunga plastik. Dan sangat mudah diperoleh, karena orang lain memberikannya. Anda tidak perlu mencarinya karena tidak ada pencarian yang terlibat. Itu sebabnya, Anda belum menjadi seorang individu. Anda hanya bagian dari kerumunan. Anda hanya bagian dari sekelompok massa.
Bila Anda tidak memiliki jati diri yang nyata, bagaimana Anda bisa menjadi seorang individu?
Ego bukan individual. Ego adalah fenomena sosial – ini adalah masyarakat, bukan Anda. Tapi itu memberi Anda sebuah fungsi dalam masyarakat, suatu hierarki di masyarakat. Dan jika Anda tetap puas dengan hal itu, Anda akan kehilangan seluruh peluang untuk menemukan diri sendiri. Dan itulah kenapa Anda begitu sengsara. Dengan kehidupan plastik, bagaimana Anda bisa bahagia? Dengan kehidupan palsu, bagaimana Anda bisa gembira dan bahagia?
Kemudian ego ini menciptakan banyak penderitaan, jutaan dari mereka. Anda tidak dapat melihat, karena kegelapan adalah Anda sendiri. Anda terbiasa dengan itu. Pernahkah Anda perhatikan bahwa semua jenis penderitaan masuk melalui ego? Tidak dapat membuat Anda bahagia, tetapi hanya dapat membuat Anda sengsara.
Ego adalah neraka. Setiap kali Anda menderita, cobalah untuk melihat dan menganalisis, dan Anda akan menemukan, di suatu tempat ego adalah penyebab itu. Dan ego terus mencari sebab-sebab untuk menderita. Anda adalah egois, seperti semua orang. Beberapa sangat kasar, hanya di permukaan, dan mereka tidak begitu sulit. Beberapa sangat halus, jauh di lubuk hati, dan mereka adalah masalah nyata. Ego ini muncul terus-menerus dalam konflik dengan orang lain karena setiap ego adalah begitu percaya diri tentang dirinya sendiri. Apakah yang harus – itu adalah hal yang keliru. Bila Anda tidak memiliki apa-apa di tangan Anda dan Anda hanya berpikir bahwa ada sesuatu yang ada, maka akan ada masalah. Jika seseorang berkata, “Tidak ada apa-apa,” pertengkaran akan segera dimulai, karena Anda juga merasa bahwa memang tidak ada apa-apa. Orang lain membuat Anda menyadari fakta. Ego adalah palsu, itu bukan apa-apa. Dan Anda juga sudah tahu itu. Lalu, kenapa Anda bisa gagal mengetahuinya?
Ini mustahil! Manusia yang sadar – bagaimana dia bisa gagal mengetahui ego ini palsu? Dan kemudian orang lain mengatakan bahwa tidak ada sesuatupun di sana – dan setiap kali orang lain mengatakan bahwa tidak ada sesuatupun di sana, ada yang menjadi terluka. Mereka mengatakan suatu kebenaran. Anda harus membela diri, karena jika Anda tidak membela diri, jika Anda tidak menjadi defensif, lalu di mana Anda akan berdiri? Anda akan kalah. Identitas akan pecah. Jadi, Anda harus bertahan dan melawan – dan timbulah bentrokan.
Seorang pria yang telah mencapai pemahaman tentang jati diri, tidak pernah hadir dalam setiap bentrokan. Orang lain mungkin datang dan bentrokan dengan dia, tetapi ia tidak pernah mau terlibat dalam bentrokan dengan siapa pun. Ini pernah terjadi pada salah satu Master Zen yang sedang melewati jalan. Seorang laki-laki datang berlari dan memukulnya keras. Master jatuh. Kemudian ia bangkit
dan mulai berjalan ke arah yang sama di mana ia akan pergi sebelumnya, bahkan tidak melihat ke belakang. Ada seorang murid yang berjalan bersama dengan Master. Dia hanya terkejut. Dia berkata, “Siapakah orang ini? Ada apa ini? Jika seseorang hidup sedemikian rupa, maka siapa pun bisa datang dan membunuh Anda. Dan Anda bahkan belum melihat orang itu, siapa dia, dan mengapa ia melakukannya.” Sang guru berkata, “Itu adalah masalahnya, bukan masalahku.”
Anda dapat bentrokan dengan orang yang tercerahkan, tetapi itu adalah masalah Anda, bukan masalahnya. Dan jika Anda terluka dalam bentrokan, itu juga masalah Anda sendiri. Dia tidak bisa menyakitimu. Dan itu seperti memukul dinding – Anda akan terluka, tapi dinding tidak menyakiti Anda.
Ego selalu mencari beberapa masalah. Mengapa? Karena kalau tidak ada yang memberi perhatian kepada Anda, ego merasa lapar. Dia butuh perhatian. Jadi, jika ada seseorang yang marah dan mengajak Anda berkelahi, itu juga baik karena setidak-tidaknya ada perhatian yang dibayar. Jika seseorang mencintai, ini juga baik. Jika seseorang tidak mencintai Anda, maka kemarahan juga baik. Setidaknya perhatian akan datang kepada Anda. Tetapi jika tidak ada yang memberikan perhatian kepada Anda, tak seorang pun berpikir bahwa Anda adalah orang penting, maka bagaimana Anda akan memberi makan ego? Perhatian orang lain sangat diiperlukan.
Ada banyak cara untuk menarik perhatian orang lain; Anda berpakaian dengan cara tertentu, Anda mencoba untuk terlihat menarik, Anda berperilaku sopan, maka Anda telah berubah. Ketika Anda merasakan situasi apa yang ada di sana, Anda segera berubah, sehingga orang-orang menaruh perhatian kepada Anda. Ini adalah benar-benar pengemis. Pengemis sejati adalah orang yang meminta dan menuntut perhatian. Dan kaisar yang sesungguhnya adalah orang yang hidup dalam dirinya sendiri; ia memiliki jati diri sendiri, dia tidak tergantung pada orang lain.
Buddha duduk di bawah pohon bodhi … jika seluruh dunia tiba-tiba menghilang, apakah itu akan membuat perbedaan bagi Buddha? – Tidak. Tidak akan ada bedanya sama sekali. Jika seluruh dunia menghilang, tidak akan ada bedanya karena ia telah mencapai ke jati diri sejati.
Tetapi Anda, jika istri melarikan diri, menceraikan Anda dan pergi ke orang lain, Anda benar-benar hancur – karena selama ini dia telah menaruh perhatian kepada Anda, rasa sayang, penuh kasih, berputar di sekitar Anda, membantu Anda merasa bahwa Anda adalah seseorang. Seluruh kerajaan Anda menjadi hilang, dan Anda menjadi hancur. Anda mulai berpikir tentang bunuh diri. Mengapa? Mengapa, jika seorang istri (atau suami) meninggalkan Anda, Anda harus bunuh diri? Karena Anda tidak memiliki pusat dari diri Anda sendiri. Sang istri telah memberikan Anda jati diri.
Ini adalah bagaimana orang-orang itu menjadi eksis. Ini adalah bagaimana orang menjadi tergantung pada orang lain. Ini adalah perbudakan yang mendalam. Ego harus menjadi budak. Tergantung pada orang lain. Dan hanya orang yang tidak memiliki ego sajalah yang bisa menjadi master; dia bukan lagi seorang budak.
Cobalah untuk memahami hal ini. Dan mulailah mencari ego – bukan pada orang lain, yang bukan menjadi urusan Anda, tapi dari dalam diri Anda sendiri. Setiap kali Anda merasa sengsara, Anda segera menutup mata dan mencoba untuk mencari tahu dari mana penderitaan itu datang dan Anda akan selalu menemukan itu adalah jati diri palsu yang berbenturan dengan seseorang.
Anda mengharapkan sesuatu, dan itu tidak terjadi. Anda mengharapkan sesuatu, dan malahan yang sebaliknya terjadi. Ego Anda terguncang, Anda berada dalam kesengsaraan. Coba lihat, setiap kali Anda menderita, cobalah untuk mencari tahu mengapa. Penyebabnya tidak berada di luar Anda. Penyebab dasarnya adalah apa yang ada pada diri Anda – tetapi Anda selalu mencarinya di luar, Anda selalu bertanya:
* Siapa yang membuat saya sengsara?
* Siapa penyebab kemarahan saya?
* Siapakah yang menyebabkan penderitaan saya?
Dan jika Anda melihat keluar, Anda akan kehilangan. Cukup menutup mata dan selalu melihatlah ke dalam. Sumber dari segala kesengsaraan, kemarahan, kesedihan, yang tersembunyi di dalam Anda, adalah ego Anda. Dan jika Anda telah menemukan sumbernya, maka akan mudah untuk bergerak di luar itu. Jika Anda dapat melihat bahwa ego Anda sendiri yang memberikan kesulitan, Anda akan lebih suka untuk menjatuhkan itu – karena tidak ada yang dapat membawa sumber penderitaan jika dia memahaminya.
Dan ingat, tidak perlu menjatuhkan ego. Anda tidak bisa menjatuhkan itu. Jika Anda mencoba untuk menjatuhkannya, Anda akan mencapai ego lebih halus lagi yang mengatakan, “Saya telah menjadi rendah hati.” Jangan mencoba untuk menjadi rendah hati. Itu adalah ego yang sedang bersembunyi – tetapi tidak mati. Tidak seorangpun dapat mencoba kerendahan hati, dan tidak seorangpun dapat menciptakan kerendahan hati melalui usahanya sendiri – tidak ada. Ketika ego dapat ditekan, sebuah kerendahan hati akan datang kepada Anda. Itu bukanlah penciptaan. Itu adalah bayangan dari jati diri yang nyata. Dan orang yang benar-benar rendah hati bukanlah rendah hati dan tidak egois. Dia hanyalah sederhana. Dia bahkan tidak menyadari bahwa dia adalah orang yang rendah hati. Jika Anda sadar bahwa Anda rendah hati, ego ada di sana.
Lihatlah orang-orang yang rendah hati …. Ada jutaan orang yang berpikir bahwa mereka sangat rendah hati. Mereka membungkukkan diri sangat rendah, tetapi mengamati mereka – mereka adalah orang-orang egois yang halus. Sekarang kerendahan hati adalah sumber makanan mereka. Mereka berkata, “Saya rendah hati,” dan kemudian mereka melihat Anda dan menunggu penghargaan Anda. “Anda benar-benar rendah hati,” mereka ingin Anda mengatakan itu. “Pada dasarnya Anda adalah orang yang paling rendah hati di dunia, tidak seorangpun yang bisa rendah hati seperti Anda.” Kemudian lihatlah senyum yang muncul di wajah mereka.
Ada seorang fakir, pengemis, yang sedang berdoa di sisi luar sebuah masjid, ketika pagi masih gelap. Dan dia berdoa, “Saya bukanlah siapa-siapa. Saya adalah golongan yang sangat miskin, pendosa terbesar dari semua orang-orang berdosa.”
Ternyata di dalam mesjid, sudah ada orang lain yang sedang berdoa juga. Dia adalah Kaisar Negara. Sebelumnya sang Kaisar juga berdoa, “Saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah manusia yang kosong, pengemis yang ada di depan pintu.”.
Ketika Kaisar mendengar ada orang lain mengucapkan doa yang sama, dia berkata, “Berhenti! Siapa yang mencoba menyamai saya? Siapa kau? Beraninya kau mengatakan bahwa kau bukan siapa-siapa ketika kaisar mengatkan bahwa dia bukan siapa-siapa?”
Itu adalah contoh bagaimana ego itu berlangsung. Itu sangat halus. Cara yang begitu halus dan licin. Anda harus sangat, sangat waspada, baru kemudian Anda akan melihatnya. Jangan mencoba untuk menjadi rendah hati. Cobalah mengamati bahwa semua kesengsaraan dan semua kesedihan datang melewatinya. Cukup amati saja! Tidak perlu menjatuhkannya. Anda tidak bisa menjatuhkan ego itu. Siapa yang akan menjatuhkan itu? Kemudian yang menjatuhkan akan menjadi ego. Ini akan selalu datang kembali. Apa pun yang Anda lakukan, keluarlah dari sana, lihat dan amati. Apa pun yang Anda lakukan – kerendahan hati, kesopanan, kesederhanaan – tidak akan membantu. Hanya satu hal yang bisa dilakukan, yaitu hanya melihat dan mengamati bahwa itu adalah sumber dari semua kesengsaraan. Jangan katakan itu. Jangan ulangi itu – Amati. Karena kalau aku mengatakan ini adalah sumber dari semua kesengsaraan dan Anda mengulanginya, maka akan menjadi sia-sia. Anda harus datang ke pemahaman tersebut. Setiap kali Anda menderita, hanya menutup mata dan jangan mencoba untuk menemukan beberapa penyebab di luar. Cobalah untuk melihat dari mana penderitaan ini datang. Ini adalah ego Anda sendiri. Jika Anda terus-menerus merasa dan memahami, dan pemahaman bahwa ego adalah penyebabnya sudah sedemikian mengakar, suatu hari Anda akan melihat secara tiba-tiba bahwa ego itu telah menghilang. Dia menghilang begitu saja, karena pemahaman bahwa ego adalah penyebab dari semua kesengsaraan, telah membuatnya menghilang begitu saja.
Terkadang Anda begitu pandai dalam melihat ego orang lain. Siapa saja dapat melihat ego orang lain. Ketika datang kepada Anda sendiri, maka masalah muncul – karena Anda tidak tahu wilayah, Anda belum pernah bepergian di atasnya. Seluruh jalan menuju ilahi, harus melewati wilayah ego ini. Kepalsuan harus dipahami sebagai kepalsuan. Sumber penderitaan harus dipahami sebagai sumber penderitaan – dan kemudian ego itu akan menghilang. Ketika Anda tahu bahwa itu adalah racun, dia menghilang. Ketika Anda tahu itu adalah api, dia menghilang. Ketika Anda tahu itu adalah neraka, dia menghilang. Dan kemudian Anda tidak akan pernah mengatakan, “Saya telah menjatuhkan ego.” Lalu Anda hanya tertawa terhadap semua kejadian, lelucon bahwa Anda adalah pencipta dari semua kesengsaraan.
Saya pernah melihat beberapa kartun Charlie Brown. Dalam salah satu kartun dia bermain dengan balok-balok, membuat rumah dari balok-balok itu. Dia duduk di tengah-tengah bangunan. Lalu datanglah saat ketika ia tertutup dinding-dinding disekitarnya. Kemudian ia menangis, “Tolong, tolong!” Dia telah melakukan semua itu! Sekarang dia tertutup, dipenjarakan. Ini adalah kekanak-kanakan, tapi ini semua yang telah Anda lakukan juga. Anda telah membuat sebuah rumah di sekitar diri Anda, dan sekarang Anda menangis. Penderitaan menjadi menenggelamkan, karena sang penolong juga berada dalam perahu yang sama.
Pernah juga terjadi seorang wanita yang sangat cantik datang ke psikiater untuk pertama kalinya. Psikiater berkata, “Silahkan, mendekatlah…” Ketika dia datang mendekat, sang psikiater memeluk dan mencium wanita itu. Dia sangat terkejut. Kemudian sang psikiater berkata, “Sekarang duduklah. Itu tadi untuk menyelesaikan masalah saya, sekarang apa masalah Anda?”
Masalahnya menjadi berlarut-larut, karena ada penolong yang berada di perahu yang sama. Dan mereka ingin membantu, karena ketika Anda membantu orang lain, ego menjadi merasa sangat baik, sangat, sangat baik – karena Anda adalah seorang penolong yang hebat, guru besar, master; Anda membantu begitu banyak orang. Semakin besar kerumunan pengikut Anda, semakin baik Anda rasakan. Tetapi Anda berada dalam perahu yang sama – Anda tidak bisa membantu. Sebaliknya, Anda malahan akan merugikan.
Orang-orang yang masih memiliki masalah mereka sendiri tidak dapat banyak membantu. Hanya orang yang tidak memiliki masalah pada dirinya sendiri yang dapat membantu Anda. Muncul pencerahan untuk melihat melalui Anda. Anda menjadi transparan. Pikiran yang tidak memiliki masalahnya sendiri dapat melihat melalui dirinya sendiri; itulah sebabnya dia menjadi mampu untuk melihat melalui orang lain.
Di Barat, ada banyak sekolah psikoanalisis, tetapi tidak banyak yang dapat membantu orang-orang, malahan membahayakan, karena orang-orang yang membantu atau berusaha membantu atau menyamar sebagai penolong, berada dalam perahu yang sama.
…Sulit untuk melihat ego diri sendiri. Sangat mudah untuk melihat ego orang lain. Tetapi itu bukan itu intinya, Anda tidak dapat menolong mereka. Cobalah untuk melihat ego Anda sendiri. Hanya mengamatinya. Ketika Anda dewasa melalui pemahaman, dan Anda telah merasa benar-benar bahwa ego adalah penyebab dari semua kesengsaraan Anda, suatu hari Anda akan melihat bahwa ego itu telah menghilang dan kemudian jati diri yang sebenarnya akan muncul. Jati diri itu adalah jiwa, diri, kebenaran, atau apapun Anda ingin menyebutnya. Dia tidak membutuhkan nama, jadi apapun namanya tidak masalah. Anda dapat memberikan nama apapun sesuai dengan keinginan Anda sendiri.

2 comments:

  1. nyimak bung... cukup menarik untuk ego ku yang sedang sakit

    ReplyDelete
  2. hehe, iya mba. emang egonya itu udah pada tingkatan mana tuh ?

    ReplyDelete